Siapapun orang di kalangan kaum muslimin pasti pernah mendengar kata "Aqidah". Di berbagai kesempatan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat keagamaan perkataan ini sering terucap. Bahkan para ustadz, kiyai dan dai menyatakan bahwa aqidah merupakan pondasi bangunan Islam. Apakah sebenarnya faedah dan keutamaan dari aqidah Islam itu ?, tulisan berikut akan sedikit mengulas tentang hal tersebut.
Bilal adalah seorang budak hitam milik seorang qurays yang bernama Umayah. Ketika terbit cahaya Islam, Bilal merupakan salah seorang yang Allah beri hidayah untuk merasakan cahaya islam tersebut. Beliau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Kian hari semakin kokoh dan subur benih Islam di hati beliau.
Sampai suatu ketika tuan beliau yang masih dalam kekafiran mengetahui keislaman beliau dan murka. Bilal dipaksa untuk kembali kepada kekafiran dan beribadah kepada beragam sesembahan yang ada. Iman yang bersemayam di hati Bilal membuatnya tegar menghadapi berbagai siksaan yang luar bisa kejamnya. Bilal disiksa dengan dijemur di tengah terik matahari padang pasir, ditindih tubuhnya dengan batu besar dan disiksa dengan berbagai siksaan lain yang luar biasa kejam. Namun di saat diuji dengan siksaan itu, hati beliau merasakan sejuknya sebuah keimanan, sehingga terlontar dari mulut beliau yang mulia....Ahad (Allah Maha Esa)...Ahad..
Kita akan terheran, dan mungkin akan segera bertanya mengapa Bilal dan para sahabat yang lain begitu tegarnya menghadapi ujian, intimidasi dan siksaan yang seberat itu ? Jawabnya adalah, karena mereka telah mendapatkan sebuah kebahagiaan yang hakiki.
Kebahagiaan yang tidak banyak dipahami oleh kebanyakan orang. Karena umumnya manusia menyatakan bahwa bahagia itu adalah kekayaan yang melimpah, rumah indah, kendaraan mewah dan terpenuhinya segala fasilitas keduniaan. Memang itu semua adalah pendukung kebahagiaan di dunia, namun dalam dataran kehidupan, kita banyak menemukan orang yang telah terpenuhi segala materi dunianya tetap saja merasakan kesumpekan hidup, tidak tenang, stress, bahkan tak jarang mengakhiri kehidupannya dengan bunuh diri... naudzubillah min dzaalik.
Inikah kebahagiaan ?
Mungkin ada pula yang akan berkata, kalau demikian bahagia itu harus meninggalkan urusan dunia, hidup miskin, mengembara, tidak usah punya isteri dan keluarga atau………...? Itu juga bukan sebuah kebahagiaan yang benar, karena kebahagiaan bisa dinikmati oleh si kaya maupun si miskin, tua atau muda dan segala kalangan.
Berkaitan dengan hal ini para ulama mendefinisikan kebagiaan dengan ketenangan hati, lapangnya dada, dan merasa cukup dengan pemberian Allah. Itulah kebahagiaan, dan segalanya hanya bisa teraih dengan keimanan yang benar, sebagaimana sabda Nabi shallalllahu alaihi wa sallam
"Sungguh mengherankan perkaranya orang mukmin, karena setiap perkaranya akan baik baginya, apabila dia mendapatkan kenikmatan maka dia bersyukur dan itu baik bagi dia, dan apabila ia mendapatkan musibah maka ia bersabar maka itupun baik bagi dia" (HR Bukhari)
Inilah peran sebuah keimanan atau aqidah yang benar, yang mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan yang sebenarnya.
Dunia memang tidak pernah sepi dari kesedihan dan kesenangan, kemudahan dan kesukaran. Menghadapi hal tersebut seorang insan muslim yang beraqidah lurus akan selalu tegar menghadapi goncangan badai kehidupan. aneka ragam musibah, seperti kekurangan harta, kekurangan jiwa (kematian anak atau keluarga), kekurangan bahan pangan, pakaian atau ancaman, insya Allah akan mampu diatasi dengan ketegaran. Di dalam hatinya dipenuhi rasa harap kepada Allah, ketergantungan kepada Allah, tawakal, sabar , dan ridha terhadap ketentuan Allah. Tak goyah imannya dengan ujian-ujian tersebut bahkan semakin kokoh, mendorongnya untuk lebih mendekat kepada Allah dan mengikhlaskan doa hanya kepadaNya semata. Ia mengaplikasikan sabda rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam
"Apabila engkau meminta mintalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah." (H.R. Tirmidzi)
Maka disaat itulah bertambah ketenangan dan kebahagiaan di dalam hatinya, yang kebahagiaan itu tak dirasakan oleh mereka yang tak kenal akan Tuhannya. Ia pun yakin akan firman Allah :
Jalan Lurus Mencapai Kebahagiaan
"Apabila Allah menimpakan bahaya kepadamu maka tidak ada yang mampu mengangkatnya kecuali Dia." (QS Al An 'am)
Hal tersebut di atas berbeda dengan mereka yang lemah aqidah dan imannya. Ujian yang datang sering membuat goncang, putus asa, mengumpat takdir atau terkadang lari kepada hal-hal yang lemah seperti meminta bantuan paranormal atau jin.
Insan yang berqidah lurus akan menjadi pribadi yang penuh dengan keindahan. Hal ini karena jelasnya tujuan hidup yang ia miliki, hendak kemana, untuk apa dan mengapa dia hidup di dunia. Maka jelaslah arah perjalan dia, sangat pasti ia melangkah dan tak ragu-ragu untuk menapak kehidupan. Ia sangat paham dengan tujuan hidup dia…….
"Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu."
(QS Adz dzariyat : 56)
Allah saja yang dia harap ridhaNya, bukan yang lain. Sehingga pikirannya pun tidak bercabang dan beranting, hanya satu. Berbeda dengan mereka yang punya banyak sesembahan tak tahu tuhan mana yang harus ia cari ridhanya. Sehingga wajar Nabi Yusuf mengatakan kepada dua temannya di penjara.
"Wahai penghuni penjara apakah Tuhan-Tuhan yang banyak itu lebih baik ataukah Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Kuasa." (QS. Yusuf)
Kasus yang berlangsung di sebuah negara maju penganut paganisme, ketika angka kematian akibat bunuh diri sangat tinggi, dan pemudanya tak berharap untuk berpanjangan hidup, apanya yang salah. Mereka tidak punya tujuan hidup yang jelas, mau kemana hidup ini dilangsungkan, mengapa ia harus dilahirkan dan hidup. Kata kunci yang kita dapatkan adalah , mereka tidak kenal akan islam dan aqidah islam yang lurus. Maka, penggalian nilai-nilai kesempurnaan Islam yang diawali dengan aqidah adalah hal yang tertawarkan lagi.
Mari Kembali ke jalan Islam ...!
Wallallahu a'lam bish showab
Kekeliruan Kaum Sufi
Kitab Talbis Iblis
Ibnul Qayyim
Yang menyeludup sebagai kaum sufi dari kumpulan yang serba boleh
Ada sekumpulan manusia yang menyeludup ke dalam kumpulan kaum sufi dari golongan yang serba boleh, mereka menyerupai kaum sufi kerana mengelakkan diri dari ditangkap dan dibunuh orang. Mereka ini terbagi kepada tiga bahagian:
Pertama:
Mereka dikira kafir, sebab mereka sebagai suatu kaum yang tidak mengakui Allah Ta'ala sebagai Tuhan. Ada juga yang mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi mereka mengingkari kenabian dan menganggap apa yang dibawa oleh para Nabi itu suatu hal yang mustahil. Mereka ini kerana hendak memenuhi kesenangan dari tuntutan hawa nafsu mereka, tidak ternampak oleh mereka suatu jalan yang dapat menyelamatkan darah mereka dari dialirkan, ataupun tiada suatu tempat yang dapat mereka berlindung di dalamnya untuk menyampaikan segala cita-cita nafsu mereka, seperti mazhab tasawuf Mereka lalu mendampingkan diri ke dalamnya secara zahir, namun dalam batinnya mereka adalah kafir. Mereka ini tiada harus diberikan selain pedang yang menebas kepala mereka, moga-moga Allah melaknati mereka.
Kedua:
Sekumpulan dari kaum ini mengakui Islam, tetapi mereka ini meniru guru-guru mereka dalam segala perbuatannya tanpa perlu dalil lagi atau tanpa teragak-agak lagi. Mereka membuat buta tuli segala apa yang disuruh mereka membuatnya dan meniru semua yang dibuat oleh guru mereka pula.
Ketiga:
Satu kumpulan lagi terdedah kepada bermacam-macam kesyubhatan yang sangat mengelirukan, namun begitu mereka turut melakukannya tanpa banyak cerita lagi.
Sebab yang menarik mereka kepada kesyubhatan ini, iaitu apabila mereka mula melihat kepada mazhab-mazhab yang lain, datang Iblis membawa belitannya, lalu dinampakkan kepada mereka bahawa kesyubhatan itu bertentangan dengan hujjah-hujjah, dan untuk membezakan semua itu adalah sangat sukar sekali, dan bahawa untuk menyampaikan kepada tujuan tidak mungkin dicapai dengan hanya menuntut ilmu semata, bahkan pencapaiannya dengan semacam kurnia Tuhan yang diberikan kepada seseorang hamba yang tertentu, bukan melalui jalan menuntut ilmu.
Dengan itu tertutuplah jalan yang dapat menyelamatkan, iaitu dengan menuntut ilmu, yang sesudah itu mereka terkenal antara kaum yang sangat membenci menuntut ilmu, seperti kaum Rafidhi yang membenci Abu Bakar dan Umar.
Hujjah yang mereka kemukakan, iaitu ilmu itu adalah hijab, dan para ulama terhijab dari tujuan atau maksud yang dituju oleh ilmu yang dituntutnya. Maka apabila ternyata ada seorang alim yang mengingkari perbuatan mereka itu, dikatakan kepada para pengikutnya, bahawa si alim ini bersetuju dengan kita secara batin, namun dia menentang kita terhadap apa yang kita akui itu secara lahir semata, kerana dia masih tergolong orang-orang awam yang lemah fahaman dan fikirannya. Tetapi, apabila dilihat penentangan si alim itu semakin kuat dan berkesan sekali, lalu mereka mengubah dakwaan mereka dengan berkata: Ini orang bodoh yang terikat dengan tuntutan-tuntutan syariat sehingga ia terhijab daripada maksud yang ditujui itu. Kemudian, mereka cuba menonjolkan bermacam-macam kekeliruan dalam isu yang dipertelingkahkan itu.
Sayang sekali, jika mereka memang orang pintar, tentulah mereka akan tahu apa yang mereka dedahkan dari berbagai-bagai kekeliruan itu termasuk ilmu juga. Dengan itu batallah pengingkaran mereka terhadap orang yang menuntut ilmu.
Berikut, saya akan sebutkan kekeliruan-kekeliruan mereka dan saya akan dedahkannya satu persatu, Insya Allah, dan semua itu adalah enam kekeliruan:
Kekeliruan 1:
Bahwa mereka mengatakan, iaitu semua perkara itu sudah ditentukan di dalam ilmu Allah yang qadim, dan bahwasanya kerana itu adalah setengah kaum ditentukan mendapat kebahagiaan, dan setengah yang lain mendapat kecelakaan.
Tegasnya orang yang bahagia tidak berubah menjadi celaka, demikian pula orang yang celaka tidak berubah menjadi bahagia, dan bahawa semua amalan itu tidak dimaksudkan dengan zatnya semata, bahkan untuk memperoleh kebahagiaan dan menolak kecelakaan, padahal takdir sudah menentukan semua amalan kita. Jadi tidak ada perlunya kita menyusahkan diri kita untuk beramal lagi, sama seperti tidak perlunya kita menahannya dari segala macam keenakan yang dicarikannya, kerana semua itu telah termaktub, yakni tercatit di dalam takdir dan pasti akan berlaku dan tidak dapat dielakkan lagi.
Jawaban terhadap kekeliruan ini, mestilah dikatakan, bahawa konsep ini jelaslah menolak semua syariat serta membatalkan semua hukum-hukum yang terdapat di dalam Kitab-kitab Allah, juga mengalahkan para Nabi dan menghapuskan segala yang dibawa oleh mereka dari ajaran Allah Ta’ala.
Sebab bila kita baca di dalam Al-Quran `hendaklah kamu mendirikan shalat!’ orang ini lalu akan berkata:
Buat apa aku mendirikan shalat lagi, kalau aku sudah tercatit dalam takdir sebagai seorang yang bahagia, tentulah kesudahanku menuju kepada kebahagiaan, dan jika aku tercatit sebagai orang yang celaka, maka kesudahanku pula kepada kecelakaan, maka apa gunanya aku mendirikan shalat lagi?!
Begitu pula bila dibacakan `dan janganlah kamu mendekati zina!’ orang ini akan mengatakan,
Kenapa mesti aku menahan diriku dari kelazatannya! Bukankah kebahagiaan dan kecelakaan itu suatu perkara yang sudah ditakdirkan, dan dia sudah selesai perkaranya.'
Serupa itu juga boleh dikatakan Fir'aun kepada Musa, ketika Musa mengatakan kepadanya: Mahukah engkau, supaya engkau bersih dari segala dosa?! Dia akan mengatakan: Buat apa? Dan seterus nya, maka terpaksalah pula Musa bermunajat kepada Tuhannya dengan berkata: Apa faedahnya Engkau mengutusku sebagai Rasul, padahal segala sesuatu sudah Engkau tentukan, duhai Tuhan?!
Sebab itu segala alasan untuk menolak Kitab-kitab Allah, dan membodohkan para Rasul Allah itu adalah mustahil dan batil, yakni tertolak. Dan kerana itu pula, maka Rasulullah s. a. w. telah membetulkan para sahabatnya ketika mereka mengatakan kepada beliau:
Apakah mesti kami bertawakkal saja?!
Maka kata Rasulullah saw.
Berusahalah! Dan setiap kamu akan dipermudahkan untuk beramal buat dirinya!
Ketahuilah, bahwa manusia itu diberi Allah suatu `usaha kecil', yang diartikan dengan pilihannya sendiri, di mana kerana itulah dia memperoleh pahala dan mendapat siksa. Apabila dia membuat salah, ternyatalah bagi kita bahwa Allah azzawajalla telah menentukan di dalam takdir Nya yang terdahulu bahwa dia akan membuat salah itu, dan bahwa Allah akan menyiksa orang itu terhadap perbuatan salahnya, bukan disebabkan ketakdiran Nya.
Sebab itu pula, si pembunuh itu mesti dibunuh, dan tidak pula dibuatkan baginya alasan yang hal itu dilakukan kerana takdirnya sudah begitu. Tetapi Rasulullah saw menarik pandangan kita daripada menyalahkan takdir kepada menyalahkan perbuatan orang yang membuat kesalahan itu, kerana perintah dan larangan itu adalah perkara yang jelas, sedang yang ditakdirkan Allah itu adalah perkara batin yang tiada siapa pun yang tahu.
Lantaran itu tidak wajarlah kita meninggalkan apa yang sudah kita mengetahuinya berupa Taklif (tanggungan diri) kepada apa yang kita tiada mengetahuinya dari hal-hal yang bakal ditakdirkan Tuhan. Dan kata Nabi s. a. w. dan setiap orang dipermudahkan kepada apa yang dia diciptakan kerananya!' jelas menunjukkan kepada sebab musabbab takdir itu.
Maka siapa yang ditakdirkan Allah baginya untuk menuntut ilmu, dipermudahkan baginya untuk menuntut ilmu itu serta mencintainya dan mendapat kefahaman daripadanya. Dan siapa yang ditentukan baginya menjadi jahil dan bodoh, diangkatkan dari hatinya sukakan ilmu.
Begitu pula, siapa yang ditentukan akan memperoleh anak, dipermudahkan baginya untuk berkahwin, dan siapa yang tidak ditentukan baginya untuk mendapat anak, tidaklah dipermudahkan baginya.
Kekeliruan 2:
Bahwa mereka mengatakan yang Allah azzawajalla itu tidak perlu kepada segala amalan kita, bahkan Allah tidak akan terjejas apa pun dengan maksiat kita atau ketaatan kita, maka apa gunanya kita menyusahkan diri tanpa ada apa faedah pun?
Jawaban terhadap kekeliruan ini pula, kita katakan pertama-tama seperti jawaban kita yang di atas, iaitu idea ini jelas ditujukan untuk menolak syariat terhadap apa yang diperintahkan olehnya.
Ucapan ini sama seperti kita katakan kepada Tuhan dan Rasul, bahwa tiada faedah apa pun yang disuruhkan kepada kita. Kemudian barulah kita membicarakan dari hal kekeliruan itu pula, dan kita katakan: Siapa mendakwa bahwa Allah azzawajalla mendapat manfaat daripada ketaatan, dan terbahaya dengan kemaksiatan, ataupun Dia akan mendapat sesuatu keuntungan dari amalan manusia itu, maka orang ini masih belum mengenali Allah Ta’ala. Sebab Allah itu tersisih DzatNya daripada menginginkan benda dan tujuan, atau dibekaskan oleh manfaat atau mudharat, akan tetapi kesemua amalan manusia itu kembali manfaat atau mudharatnya kepada dirinya sendiri, sesuai dengan Firman Allah Ta’ala:
"Siapa yang bermujahadah (menentang tuntutan diri), maka mujahadahnya untuk dirinya sendiri.” Al-Ankabut: 6
Dan Firman Nya:
"Siapa yang membersihkan kembali kepada dirinya sendiri." Fathir: 18
Umpamanya, seperti seorang tabib menyuruh pesakitnya supaya berpantang, maka kebaikan berpantang itu kembali faedahnya kepada si pesakit, bukan si tabib. Dan sebagaimana tubuh badan itu ada maslahatnya dari makanan dan ada mudharatnya, demikian pula bagi jiwa atau diri ada maslahatnya pula dari segi ilmu dan jahil, iktikad (kepercayaan) dan amalan.
Tegasnya pembawa syariat itu persis sama dengan tabib, dia lebih tahu dari hal apa yang disuruhnya tentang kemaslahatan pesakitnya. Inilah mazhab orang yang mahu meminta illat (alasan). Namun kebanyakan dari para ulama mengatakan, bahwa tindakan Tuhan itu tidak boleh diillatkan, atau dibuat alasannya.
Dan jawaban yang lain lagi, bahwa jika Allah Ta’ala itu tidak memerlukan semua amalan kita, Dia juga tidak memerlukan pengenalan kita kepada Nya, namun begitu Dia tetap mewajibkan kita untuk mengenali Nya, seperti mana Dia mewajibkan kita untuk mentaati Nya. Jadi, wajarlah kita memerhatikan kepada perintah Nya, bukan kepada tujuan dan maslahat perintah itu.
Kekeliruan 3:
Mereka mengatakan, bahwa jika sudah sabit dan nyata akan luasnya rahmat Allah Ta’ala itu, tentu sekali rahmat itu tidak akan menjadi lemah untuk sampai kepada kita, dan tidak ada jalan untuk menghalangi kita dari maksudnya?!
Jawabannya samalah juga dengan jawaban yang pertama, iaitu dakwaan itu mengandungi tujuan untuk menghumban segala apa yang dibawa oleh para Rasul berupa ancaman Allah serta meringan kan apa yang ditekankan beratnya peringatan Allah Ta’ala dalam perkara itu dari siksa yang dijanjikanNya.
Dan yang dapat mendedahkan belitan Iblis dalam permasalahan ini, kita katakan bahwa Allah azzawajalla, sebagaimana mensifatkan Dzat Nya dengan Maha Perahmat, juga mensifatkan Dzat Nya dengan sangat berat siksaan Nya.
Kemudian, kita lihat para Nabi dan para Wali ditimpa bala penyakit dan kelaparan, dan diperhitungkan yang kecil dan yang besar dari ketelanjuran mereka, dan apa lagi hendak dikatakan padahal orang yang sudah tentu-tentu terbukti akan selamat masih terus takut dan bimbang terhadap balasan Allah.
Cuba lihat Nabi Allah Ibrahim a. s. mengatakan di hari kiamat `Nafsi... Nafsi! (Diriku....diriku!), dan Nabi Musa as. yang berpangkat Kalimullah turut mengatakan nanti `Nafsi... Nafsi!’ Dan lihat pula apa kata Saiyidina Umar bin Al-Khattab r.a. pula: Celaka bagi Umar, jika dia tidak diampunkan Tuhan nanti!
Ketahuilah, siapa yang mengharapkan rahmat Allah, mestilah dia membuat sesuatu untuk terliput ke dalam sebab-musabbabnya. Dan di antara sebab-musabbab rahmat, iaitu bertaubat dari segala ketelanjuran, sama seperti orang yang inginkan menuai hasil tanaman, mestilah dia bercucuk tanam terlebih dahulu. Dan sebagai buktinya, Allah Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Quran:
"Sesungquhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berserah serta berjihad pada jalan Allah, mereka itulah oranq-oranq yang mengharapkan rahmat Allah.” Al-Anfal: 72
Yakni, orang-orang yang serupa inilah bertepatan sekali dengan sifat Raja', yakni harapan.
Adapun orang-orang yang terus-menerus melakukan dosa, kemudian mengharapkan rahmat Tuhan, maka harapan mereka itu adalah jauh sekali, sesuai dengan sabda Rasulullah s. a. w.
"Orang yang pintar itu, ialah siapa yang menghutangi dirinya dan membuat sesuatu untuk kebaikan sesudah mati. Sedanq orang yang malas ialah siapa yang menurutkan kehendak diri menurut hawa nafsunya, lalu bercita-cita kosonq terhadap Allah."
Telah berkata Ma'ruf Al-Karkhi rahimahullah-ta'ala:
Harapanmu akan rahmat siapa yang engkau tiada mentaatinya adalah suatu sesia dan bodoh!
Ketahuilah, bahwasanya tiada suatu perbuatan pun yang datang daripada Allah Ta’ala yang dapat mengamankan kita dari siksaan Nya. Cuma pada perbuatan Nya ada yang dapat menghalang sifat putus asa daripada rahmat Nya saja. Maka sebagaimana tidak dikira baik berputus asa terhadap apa yang diperlihatkan kelembutan Nya pada makhluk Nya, begitu pula tidak dikira balk mencita-citakan terhindarnya sesuatu dari balasan Nya dan siksaan Nya. Sebab Tuhan yang menyuruh memotong semulia-mulia anggota (iaitu tangan bila mencuri) dengan seperempat dinar, tidak mudah diamankan dari penyiksaan Nya besok (di akhirat) begitu saja.
Kekeliruan 4:
Bahwa ada suatu kumpulan dari kaum ini yang membekas di dalam diri mereka, bahwa meriadhahkan diri (mendidik diri) itu dengan membersihkannya dari segala rupa kekeruhan buruk yang melekat padanya.
Apabila mereka meriyadhahkannya suatu masa, kemudian mereka dapati yang diri itu sukar untuk terus menjadi bersih, lalu mereka pun mengatakan:
Buat apa kita menyusahkan diri kita untuk membuat sesuatu yang tidak akan terhasil pada diri manusia dan mereka pun terus meninggalkan riyadhah itu sama sekali.
Pendedahan belitan ini, sebabnya iaitu mereka menyangka yang termaksud dari riyadhah ini ialah menahan tabiat yang ada di dalam batin manusia daripada sifat-sifat kemanusiaan, seperti meniadakan syahwat dan sifat marah dan seumpamanya.
Yang betulnya, bukan inilah yang dituntut oleh syarak, dan memang tidak mungkin melenyapkan apa yang sudah tersimpul dalam tabiat manusia dengan riyadhah itu. Sebab syahwat itu dilengkapkan pada diri manusia ada faedahnya, sebab kalaulah tidak ada syahwat keinginan makan niscaya akan binasalah manusia itu. Dan kalaulah tidak ada syahwat berkahwin, tentulah keturunan itu akan terputus. Dan kalaulah tidak kerana sifat marah, tentulah tidak dapat manusia mempertahankan dirinya dari apa yang bakal membahayakannya. Demikian pula kecintaan pada harta kekayaan itu memang sudah terbentuk di dalam tabiat manusia, kerana yang demikian itu akan menyampaikannya kepada pengecapan syahwatnya.
Yang dimaksudkan daripada riyadhah itu ialah membendung diri daripada apa yang bakal membahayakan diri yang menempuh syahwat itu dan menariknya kepada sikap pertengahan.
Allah Ta’ala telah memuji orang yang membendung dirinya daripada hawa nafsunya, sehingga dia mencapai apa yang diperlukannya ke batas pertengahannya. Kalaulah tuntutannya telah sama sekali lenyap dari tabiatnya, tentulah tidak perlu lagi untuk melarang manusia supaya membendung hawa nafsunya. Allah s. w. t. telah berfirman:
"... dan mereka yang menahan kemarahannya.” Ali Imran: 134
Dan Allah Ta’ala tidak mengatakan
`dan mereka yang lenyap kemarahannya!'
Jadi Allah Ta’ala telah memuji orang yang dapat mengendalikan dirinya dari berbuat sesuatu hanya menurutkan penggelegakan marahnya. Barangsiapa yang mendakwa bahwa riyadhah itu untuk menukar tabiat manusia, maka sebenarnya dia telah mendakwa sesuatu yang mustahil.
Tetapi maksud daripada riyadhah itu mematahkan kegelojohan syahwat nafsu yang ada di dalam diri manusia, dan mematahkan penggelegakan marah dan bukan pokok kemarahan itu sendiri.
Tegasnya, orang yang beriyadhah itu sama seperti tabib yang berakal waras ketika menghadapi makanan, dia akan mengambil apa yang cocok dengan dirinya dan menahan daripada apa yang membahayakannya. Orang yang sama sekali tidak kenal riyadhah pada dirinya samalah seperti seorang anak kecil yang masih bodoh, dia makan apa yang ia mahu, dan tidak perduli apa yang dia lakukan.
Kekeliruan 5:
Ada sekumpulan dari kaum ini yang sudah lama membiasakan riyadhah, sehingga mereka menyangka bahwa diri mereka telah menjadi seperti mutiara. Maka mereka pun mengatakan, bahwa kami sekarang tidak perduli apa yang kami lakukan, sedang perintah dan larangan itu hanyalah sebagai patokan bagi orang-orang awam.
Nanti apabila mereka sampai ke puncak mutiara, akan gugurlah pula semua kewajiban itu. Mereka mendakwa, bahwa pokok kenabian itu kembali kepada kebijaksanaan dan kemaslahatan, dan yang dimaksudkan daripadanya ialah mengongkong orang awam, dan kita bukanlah dari kategori orang awam, sehingga kita patut dikira termasuk kumpulan orang yang menanggung taklif lagi, kerana kita sudah mencapai tingkat mutiara dan kita telah tahu maksud daripada kebijaksanaan.
Mereka ini telah berpendapat juga, bahwa bekas dari pencapaian mereka ke tingkat yang tinggi ini, terhapusnya perasaan cemburu dan marah dari sifat mereka, sehingga mereka mengatakan pula: Bahwa tingkat kesempurnaan diri itu ialah sampai siapa yang sanggup melihat isteri sendiri bersamaan dengan seorang asing, namun dia tetap tenang, tidak gentar dan terusik hatinya.
Maka jika dia masih terusik hatinya berarti dia masih berpaling kepada kepentingan diri sendiri, dan belum sempurna lagi. Sebab jika dia telah sempurna, niscaya matilah jiwanya. Tegasnya, mereka telah menamakan cemburu itu sebagai kepentingan diri, dan menamakan lenyapnya marah dari perasaan yang biasanya disifati oleh orang-orang yang tidak punya malu dan marwah sebagai kesempurnaan iman.
Ibnu Jarir Ath-Thabari di dalam kitab sejarahnya telah menyebut kaum Riwandiyah, yang sering menghalalkan larangan-larangan Allah, sehingga seorang lelaki di antara mereka mengundang ramai orang ke rumahnya, dijamukan mereka dengan makan minum, kemudian dibiarkan mereka bersatu dengan isterinya.
Dan pendedahan kekeliruan ini, kita katakan, selama tubuh badan itu masih berdiri, tiada jalan untuk meninggalkan semua lambang perintah yang zahir dari peribadatan itu, kerana semua perintah itu diletakkan untuk kemaslahatan manusia, yang mesti ditunaikannya.
Memang ada katanya kesucian hati itu dapat mengatasi kekeruhan tabiat, akan tetapi pada kebiasaannya kekeruhan itu menurun dengan berkekalannya membuat kebaikan, lalu berkumpul.
Maka sekecil-kecil benda yang jatuh ke dalamnya akan menggerakkannya, seperti jatuhnya seketul tanah ke dalam air yang di bawahnya ada lumpur. Jadi umpama tabiat itu adalah seperti air yang melayarkan perahu jiwa, sedang akal sebagai pengemudinya. Seandainya sang pengemudi membawanya hingga sampai dua puluh farsakh jauhnya, kemudian dibiarkannya sendiri pula, niscaya perahu itu akan hanyut kembali tidak tentu arahnya.
Jadi, sesiapa yang mendakwa bahwa tabiatnya sudah berubah dari tabiat manusia yang lain, dia telah berdusta. Dan sesiapa yang mendakwa bahwa dia melihat kepada yang cantik molek tanpa naik nafsunya, dia tidak boleh dipercayai.
Bagaimana tidak, cuba kalau dia dikurangkan satu suap dari makanan, atau kalau dicaci maki orang, tentulah mukanya akan berubah. Di mana kesannya akal, bila dia dipimpin oleh hawa nafsu?!
Kita pernah melihat beberapa kaum dari mereka yang bersalaman dengan kaum wanita, padahal Rasulullah s. a. w. yang sudah tetap ma `shum (terpelihara dari dosa), masih tetap enggan bersalaman dengan wanita. Ada pula berita yang mengatakan bahwa setengah mereka mempersaudarakan dirinya dengan kaum wanita, lalu duduk-duduk bersendirian dengan wanita itu, kemudian mereka mendakwa diri terselamat dari dosa dan tidak sampai melakukan perbuatan keji. Alangkah jauh panggang dari api!
Di mana boleh terselamat daripada dosa duduk-duduk bersendirian yang diharamkan, dan dari memandang wajah satu dengan yang lain. Di mana boleh terlepas dari khayalan yang buruk terus menggoda pemikiran?!
Umar bin Al-Khattab r. a. pernah berkata:
Jika dua batang tulang yang hancur lumat duduk bersendirian, niscaya yang satu akan menangkup kepada yang lain. Maksudnya dua orang yang sudah tua lelaki dan perempuan.
Dan dengan sanad daripada Ibnu Syahin, katanya:
Di antara kaum Sufi ini ada yang membolehkan memperkosa kemaluan wanita dengan alasan akuan persaudaraan. Maka berkatalah seorang di antara kaum sufi itu kepada si wanita tadi:
Engkau mesti mempersaudarakan dirimu kepadaku dengan tidak boleh membangkang apa yang berlaku di antara kita bersama!
Diriwayatkan kepada kita Abu Abdullah Muhammad bin All At-Termidzi di dalam Kitabnya `Riyadhalh An-Nufus', katanya, telah diriwayatkan kepada kami, bahwa Sahel bin All Al-Mirwazi pernah mengatakan kepada isteri saudaranya, dan dia sedang menetap bersama-samanya serumah:
Tutuplah dirimu kepadaku beberapa waktu!
Kemudian sesudah itu, dia berkata pula:
Buatlah apa yang engkau suka!
Berkata At-Termidzi:
Yang demikian itu setelah lenyap syahwatnya.
Aku katakan:
Matinya syahwat itu sama sekali tidak tergambar dalam kehidupan anak Adam, tetapi mungkin syahwatnya menurun dan lemah. Tetapi ada orang yang mungkin syahwatnya lemah ketika berjimak, tetapi bila meraba dan memandang nafsunya tetap mengingini. Kemudian bolehlah ditakdirkan bahwa semua itu sudah tidak ada lagi pada orang itu, akan tetapi bukankah syarak itu tetap melarang manusia memandang kepada yang haram, dan hukum pengharamannya itu tetap berterusan dan umum.
Dan telah memberitahuku Nasir dengan sanadnya kepada Abu Abdul Rahman As-Sulami, katanya:
Pernah ada orang mengatakan kepada Abu Nashr An-Nashrabadzi, bahwa setengah orang suka duduk dengan kaum wanita, serta dia mendakwa yang dirinya ma'shum pada pemandangannya itu.
Jawabnya:
Selama tubuh badan itu tertegak, maka perintah dan larangan itu tetap kekal, dan penghalalan serta pengharaman tetap dipersoaljawabkan, dan tiada seorang yang berani membuat kesyubhatan itu kecuali orang yang terdedah dirinya kepada yang diharamkan.
Berkata Abu All Ar-Ruzbari:
Pernah ditanyakan orang dari hal seorang yang menganggap dirinya telah sampai suatu darjat, di mana tidak terkesan lagi baginya akan pertelingkahan ehwal,
maka dia dijawab:
Betul dia telah sampai tetapi ke neraka Saqar.
Dan dengan sanad daripada Al jariri, katanya: Aku pernah mendengar Abul Qasim Al Junaid berkata kepada seorang lelaki yang berbicara mengenai masalah makrifat. Orang itu berkata:
Kaum ahli makrifat dengan Allah, mereka sampai dapat meninggalkan pergerakan dari sebab kebaktian dan pendekatan diri kepada Allah azzawajalla.
Maka dia dijawab oleh Al Junaid:
Ia itu adalah kaum yang berbicara tentang penghapusan amalan, dan dalam pandanganku, ini adalah suatu dosa besar, dan orang yang mencuri dan berzina adalah lebih baik keadaannya daripada orang yang berani mengatakan serupa ini. Dan bahwa kaum Arif Billah mengambil amalan itu daripada Allah, dan kepada Allah pula mereka kembali dengan amalan itu. Kalau aku ditakdirkan akan kekal seribu tahun lagi, niscaya tidak akan aku kurangkan dari amalan-amalan kebaktian itu walau sebesar atom pun, kecuali jika aku dihalangi daripadanya, sebab aku menjadi lebih kuat dalam makrifatku itu dengan kebaktian, dan keadaanku akan menjadi teguh pun dengannya juga.
Dan dengan sanad daripada Abu Muhammad Al-Murta'isy, katanya: Aku telah mendengar Abul Husain An-Nauri berkata:
Sesiapa yang engkau dapati mendakwa ada ehwal dengan Allah Ta’ala yang boleh mengeluarkannya dari batasan ilmu syariat, maka jangan kamu mendekatinya. Dan sesiapa yang engkau mendapatinya mendakwa mempunyai ehwal kebatinan tanpa bukti yang menguatkannya, ataupun disaksikan oleh suatu pemeliharaan diri, maka hendaklah engkau menuduhnya menyalahi agamanya.
Kekeliruan 6:
Ada segolongan manusia yang telah bersungguh-sungguh dalam riyadhah, sehingga melihat ada semacam yang menyerupai keramat atau mimpi-mimpi yang salih, ataupun terbuka fikirannya dengan kata-kata yang indah dan lembut disebabkan berpanjangan dalam pemikiran atau khalwat, lalu mereka mengira dirinya sudah sampai kepada kemuncak tujuan dan berkata:
Kami telah sampai, dan kini tidak ada sesuatu yang dapat membahayakan diri kami! Dan siapa yang sampai ke Ka'bah berhentilah dia dari berjalan lagi! Maka mereka pun mula memutuskan beramal lagi, cuma yang mereka tonjolkan, iaitu memperindahkan diri mereka dengan pakaian jubah yang bertampal-tampalan, kain sajadah, berjoget, dan Al-Wajd (keasyikan batin), dan mereka mengucapkan ibarat-ibarat sufi dalam makrifat, Syauq (kerinduan) dan sebagainya.
Maka jawabnya kepada kaum ini ialah seperti jawaban-jawaban yang sebelumnya.
Berkata Ibnu Aqil:
Ketahuilah, bahwa orang sekarang banyak yang telah menyimpang daripada jalan Allah azzawajalla dan menjauhkan diri daripada ketetapan syarak, lalu tunduk kepada ketetapan yang dibuatnya sendiri.
Ada di antara mereka yang menyembah selain Allah, konon kerana hendak memuliakannya daripada disembahkan kepada Nya ibadat itu, dan mereka menjadikan yang demikian itu sebagai jalan kemuliaan menurut dakwaan mereka.
Ada yang tetap mentauhidkan Tuhan, tetapi menggugurkan ibadat sama sekali, lalu mendakwa bahwa ibadat itu diadakan untuk orang-orang awam saja kerana ketiadaan makrifat bagi orang awam itu, dan ini adalah semacam syirik, padahal tidak mencukupi mengenal Tuhan dengan makrifat semata, tanpa menundukkan diri terhadap kesemua perintah-perintah Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum mulhid yang bergantung kepada kebatinan dan kaum sufi yang ekstrim.
Dan dengan sanad daripada Abul Qasim bin Ali bin Muhsin At-Tanukhi, daripada ayahnya, katanya:
Telah memberitahuku sekumpulan dari ahli ilmu, bahwa terdapat di Syiraz, seorang lelaki dikenal dengan nama Ibnu Khafif Al-Bughdadi, seorang tok guru kaum sufi. Ramai orang berkumpul dalam majlisnya dan mendengar kepadanya berbicara dari hal bisikan dan waswas, yang ada katanya sampai beribu-ribu orang yang menghadirinya, dan tok guru sufi ini adalah seorang yang mempunyai fahaman yang mendalam.
Maka dipengaruhilah ramai orang yang lemah iktikadnya kepada kepercayaan mazhabnya itu. Maka pada suatu hari matilah salah seorang dari pengikutnya, sedang si mati itu meninggalkan seorang isteri yang sufi juga.
Lalu berkumpullah kaum wanita sufi dari mazhab ini, yang bilangannya sangat banyak sekali untuk mengingati si mati itu, semuanya kaum wanita tidak bercampur dengan selainnya.
Sesudah selesai pengebumian si mati itu, datanglah Ibnu Khafif, tok guru mereka bersama-sama dengan pengikutnya ke rumah itu, dan bilangan mereka juga banyak, dan satu-satu datang kepada isteri si mati itu memberikan takziyahnya dengan ucapan takziyah kaum sufinya, sehinggalah sang isteri itu mengatakan: Sudah cukup, aku Sudah terima takziyah kamu sekalian!
Lalu Ibnu Khafif menyampuk dengan kata-kata yang simbolik, katanya:
Sekarang lain pula!
Jawab si isteri:
Tidak sama?!
Kata Ibnu Khafif pula:
Apa artinya mengekalkan pada jiwa (atau nafsu) bahaya-bahaya dukacita, dan menyiksakannya dengan berbanyak fikiran? Apa artinya kita meninggalkan berkumpul supaya memperoleh cahaya, dan mensucikan roh, dan berlaku pergantian, dan menurun keberkatan?! Maka kumpulkan semua wanita di sini, jika engkau benarkan!
Maka pada ketika itu, bercampur gaulilah kumpulan lelaki dengan kumpulan wanita sepanjang malamnya, dan apabila terbit ufuk pagi, mereka pun masing-masing kembali ke rumah mereka.
Berkata Muhsin At-Tanukhi: Maksud kekata
`Sekarang lain pula!' iaitu: Sekarang kita akan melakukan apa yang menurut mazhab kita.
Jawab wanita itu: `Tidak sama?!' yakni tidak bertentangan.
Dan katanya: `Meninggalkan berkumpul' yang dimaksudkan kata rahasia daripada `berkumpul untuk bersetubuh',
dan kekata `memperoleh cahaya', yakni pada mereka bahwa setiap jisim ada cahaya ketuhanan,
dan kekatanya `berlaku pergantian', yakni pergantian dari siapa yang mati, atau sudah pergi dari suami-suami kamu!
Berkata Mushin lagi:
Perkara ini adalah suatu dosa yang besar, dan kalaulah tidak kerana ramai orang yang memberitahuku serupa itu, dan tidak mungkin kesemuanya berdusta, niscaya tidak berani aku memberitahukan berita semacam ini, kerana terlalu besar perkaranya dalam pandangan agama, dan terjauh kemungkinan berlakunya dalam sesebuah negeri Islam.
Menurut berita lagi, bahwa cerita ini, dan lelain ceritanya lalu tersebar sampai pada telinga rakyat jelata, sehingga beritanya sampai pula kepada Khalifah Adhudut-Daulah, lalu disuruhnya polis menangkap segolongan dari mereka dan disebat dengan cambuk, manakala yang lain terus melarikan diri sehingga lenyaplah kepercayaan yang sungguh buruk ini.
Kritik perjalanan kaum sufi dalam penta'wilannya
Apabila ternyata ceteknya ilmu kaum sufi itu dengan hukum-hakam syarak, sehingga berlaku daripada mereka perbuatan dan pembicaraan yang tidak pantas disebarkan, sebagaimana yang telah kami sebutkan terdahulu dari ini.
Kemudian datang pula suatu kaum yang cuba meniru perjalanan mereka, padahal mereka bukan dari kaum sufi itu sendiri, dan mereka ini juga telah memakai nama apa yang dipakai oleh kaum sufi itu, dan berlaku dari perbuatan mereka sama dengan apa yang berlaku dari kaum sufi itu sebagaimana yang telah kami ceritakan, kemudian hendak mencari seorang yang betul-betul berdiri atas jalan kesufian juga sukar sekali, sehingga ramai dari para ulama yang mencela mereka, dan kemudian mencela seterusnya kepada tok guru mereka.
Dan dengan sanad daripada Abdul Malik bin Ziyad An-Nashibi, katanya:
Pernah aku berada di majlis Imam Malik, lalu aku menyebut tentang hal kaum sufi di negeri kita, dan aku mengatakan:
Mereka itu memakai pakaian yang indah dari buatan negeri Yaman, lalu mereka berbuat begini dan begitu.
Jawab Imam Malik:
Apakah engkau ingat begitukah perilaku orang Islam?!
Kemudian Imam Malik ketawa panjang sehingga tersandar.
Kemudian setengah orang yang berada di situ mengatakan kepadaku: Hei kawan! Aku tidak pernah melihat tuan syaikh kita ketawa panjang, seperti yang aku lihat pada hari ini.
Dan dengan sanad daripada Yunus bin Abdul A'la, katanya aku mendengar Imam Syafi'i berkata:
Kalau seseorang terus bertasawuf dari awal pagi, dan nanti belum sempat ke waktu tengahari melainkan dia telah menjadi bodoh degil.
Dan satu riwayat lagi daripadanya mengatakan:
Tiada seseorang yang melazimkan kesufian hingga empat puluh hari, melainkan akalnya tidak akan kembali kepadanya sama sekali, kemudian Imam Syafi'i pernah merangkai bait syair ini:
Biarkanlah orang yang jika mendatangimu pura-pura beribadat Dan bila bersendirian tak ubahlah dia serigala yang mengganas
Dan dengan sanad daripada Hatim, katanya telah berbicara kepadaku Ahmad bin Abul Hawari, katanya: Telah berkata Abu Sulaiman:
Aku tiada melihat seorang sufi pun dalam kebaikan selain Abdullah bin Marzuq.
Katanya lagi:
Aku sungguh kasihan kepada mereka itu.
Dan dengan sanad daripada Yunus bin Abdul A'la, katanya:
Aku belum lihat seorang sufi yang sempurna akalnya seperti Idris AlKhaulani.
Berkata As-Sulami:
Dia seorang Mesir dari tok guru yang lama sebelum Dzin Nun lagi.
Dari sanad Yunus bin Abdul A'la, katanya:
Aku pernah bersahabat dengan kaum sufi selama tiga puluh tahun, tiada seorang pun yang aku lihat sempurna akalnya kecuali Muslim Al-Khawwas.
Dan daripada Ahmad bin Abul Hawari, katanya telah berbicara kepadaku Waki`, katanya aku mendengar Sufyan berkata, aku mendengar Ashim berkata:
Kita masih menganggap kaum sufi itu kaum yang bodoh, akan tetapi mereka kebanyakannya melindungkan diri dengan nama ahli Hadis.
Berkata Yahya bin Mu'az:
Tinggalkanlah persahabatan dengan tiga golongan manusia, iaitu: Ulama yang lalai, kaum fakir yang menipu, dan kaum sufi yang jahil.
Demikianlah serba ringkas dari kelakuan setengah-setengah kaum sufi yang menyeleweng dari jalan yang benar ini.'
Keajaiban Angka 19 Dalam Al Qur'an
assalamualaikum.
it's quite long,but take your time. It’s really worth reading.
Setiap muslim pasti meyakini kebenaran Quran sebagai kitab suci yang tidak ada keraguan sedikitpun, sebagai
petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Namun kemukjizatan Quran tidak hanya dibuktikan lewat
kesempurnaan kandungan, keindahan bahasa, ataupun kebenaran ilmiah yang sering mengejutkan para ahli.
Suatu kode matematik yang terkandung di dalamnya misalnya, tak terungkap selama berabad-abad lamanya
sampai seorang sarjana pertanian Mesir bernama Rashad Khalifa berhasil menyingkap tabir kerahasiaan
tersebut. Hasil penelitiannya yang dilakukan selama bertahun-tahun dengan bantuan komputer ternyata sangat
mencengangkan. Betapa tidak, ternyata didapati bukti-bukti surat-surat/ayat-ayat dalam Quran serba
berkelipatan angka 19.
Penemuannya tersebut berkat penafsirannya pada surat ke-74 ayat : 30-31, yang artinya sbb : “Yang atasnya
ada sembilanbelas. …….., dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (angka 19) melainkan untuk menjadi
cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang
beriman bertambah imannya, dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak
ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata:
Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?”.
Hasil penemuannya yang sangat mengejutkan ini pada tahun 1976 telah didemonstrasikan di depan umum ketika
diselenggarakan Pameran Islam Sedunia di London. Berikut cuplikan dari sebagian penemuannya tersebut :
1. Kita mengetahui bahwa setiap surat-surat dalam Quran selalu diawali dengan bacaan ‘Basmalah’ sebagai
statement pembuka, yaitu “Bismillaahirrahmaanirraahiim” (yang artinya : “dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”). Ternyata bacaan ‘Basmalah’ tersebut (dalam bahasa Arabnya) terdiri dari 19 huruf (atau 19 X 1 ).
2. Bacaan ‘Basmalah’ terdiri dari kelompok kata : Ismi – Allah – Arrahman – Arrahim. Penelitian menunjukkan
jumlah dari masing-masing kata tersebut dalam Quran ternyata selalu merupakan kelipatan angka 19.
a. Jumlah kata ‘Ismi’ dalam Quran ditemukan sebanyak 19 buah (atau 19 X 1 )
b. Jumlah kata ‘Allah’ dalam Quran ditemukan sebanyak 2.698 buah (atau 19 X 142 )
c. Jumlah kata ‘Arrahman’ dalam Quran ditemukan sebanyak 57 buah (atau 19 X 3 )
d. Jumlah kata ‘Arrahim’ dalam Quran ditemukan sebanyak 114 buah (atau 19 X 6 )
Apabila faktor pengalinya dijumlahkan hasilnya juga merupakan kelipatan angka 19 , yaitu 1 + 142 + 3 + 6 = 152 (atau 19 X 8).
3. Jumlah total keseluruhan surat-surat dalam Quran sebanyak 114 surat (atau 19 X 6 ).
4. Bacaan ‘Basmalah’ dalam Quran ditemukan sebanyak 114 buah (atau 19 X 6 ), dengan perincian sbb:
Sebanyak 113 buah ditemukan sebagai pembuka surat-surat kecuali surat ke-9, sedangkan sebuah lagi
ditemukan di surat ke-27 ayat : 30.
Berbeda dengan surat-surat lain, surat ke-9 memang khusus sengaja tidak diawali bacaan ‘Basmalah’ karena
isinya merupakan ayat-ayat perang. Dalam Surat ke-9 ini kebanyakan pokok pembicaraannya berisi tentang
pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin karena pengkhianatan mereka, sebaliknya
surat ke 27 terdapat kisah ajakan penyerahan diri Ratu Balqis oleh Sulaiman. Jadi terdapat antagonis antara
surat ke-9 dan surat ke-27.
Berikut terjemahan surat ke-9 ayat 3 : “Dan suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat
manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang
musyrikin, kemudian jika kamu bertobat maka bertobat itu lebih baik bagimu, dan jika kamu berpaling maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang
kafir bahwa bagi mereka siksa yang pedih.”
Terjemahan surat ke-27 ayat: 29-31: ”Ia (Balqis) berkata, Hai pembesar-pembesarku, telah dikirim
kepadaku sebuah surat yang berharga. Surat itu dari Sulaiman yang isinya berbunyi : “Dengan nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah
kepadaku dengan berserah diri.”
5. Pada surat ke-27 ayat : 30 tempat ditemukannya bacaan ‘Basmalah’, kalau bilangan surat dan ayatnya
dijumlahkan hasilnya merupakan kelipatan angka 19 yaitu 27 + 30 = 57 (atau 19 X 3 ).
6. Dari point 4 di atas, ditemukan hubungan yang menarik antara surat ke-9 dan ke-27. Surat ke-27
ternyata merupakan surat yang ke-19 jika dihitung dari surat ke-9.
============ surat ke : 9, 10, 11, 12, ………………., 25, 26, 27
======= urutan surat ke : 1, 2, 3, 4, ………………., 17, 18, 19.
7. Dari point 6, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-9 s/d ke-27,
(9+10+11+12+…+24+25+26+27) maka hasilnya adalah 342 (atau 19 X 18 ).
8. Wahyu pertama (Surat ke-96 ayat : 1-5 ) terdiri dari 19 kata (atau 19 X 1 ) dan 76 huruf (atau 19 X 4)
9. Wahyu kedua (Surat ke-68 ayat : 1-9 ) terdiri dari 38 kata (atau 19 X 2 ).
10. Wahyu ketiga (Surat ke-73 ayat : 1-10 ) terdiri dari 57 kata (atau 19 X 3 ).
11. Wahyu terakhir (Surat ke-110 ) terdiri dari 19 kata (atau 19 X 1 ), dan ayat pertama dari Surat
ke-110 tersebut terdiri dari 19 huruf (atau 19 X 1 ).
12. Wahyu yang pertamakali menyatakan ke-Esaan Allah adalah wahyu ke-19 (Surat ke-112)
13. Surat ke-96 tempat terdapatnya wahyu pertama, terdiri dari 19 ayat (atau 19 X 1 ) dan 304 huruf
(atau 19 X 16 ). Selain itu juga ternyata surat ke-96 tersebut merupakan surat yang ke-19 bila diurut/
dihitung mundur dari belakang Quran.
=========== surat ke : 114, 113, 112, 111, ………………., 98, 97, 96
======= urutan surat ke : 1, 2, 3, 4, ………………., 17, 18, 19.
Bukti-bukti di atas menunjukkan bahwa Quran tersusun dengan perhitungan sistim kunci (interlocking system),
sesuai maksud dari surat ke-85 ayat : 20, yang artinya : “Allah telah mengepung/ mengunci mereka dari belakang”.
14. Dari point 13, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-114 s/d ke-96,
(114+113+112+111+…+98+97+96) maka hasilnya adalah 1995 (atau 19 X 105 ).
15. Bagian tengah-tengah Quran jatuh pada Surat ke-18 ayat : 19 (atau 19 X 1 ).
16. Penulis juga menemukan bukti bahwa surat-surat yang memiliki 8 (delapan) ayat dan 11 (sebelas) ayat
ditemukan yang paling banyak dalam Quran, yakni masing-masing terdiri dari 5 (lima) buah surat.
Disusul kemudian surat-surat yang memiliki 3 (tiga), 19 (sembilan belas), 29 (dua puluh sembilan), 30 (tiga
puluh), dan 52 (lima puluh dua) ayat, yang masing-masing terdiri dari 3 (tiga) buah surat.
Apabila dijumlahkan ayat-ayat tersebut sesuai dengan kelompoknya maka hasilnya merupakan kelipatan angka
19, yaitu sbb :
= surat ke: 94, 95, 98, 99, 102 masing-masing terdiri
dari: 8 ayat
= surat ke: 62, 63, 93, 100, 101 masing-masing terdiri
dari: 11 ayat
Apabila jumlah ayat-ayatnya dijumlahkan : 8+11=19,
(atau 19 X 1 )
== surat ke : 103, 108, 110 masing-masing terdiri
dari: 3 ayat
== surat ke : 82, 87, 96 masing-masing terdiri dari:
19 ayat
== surat ke : 48, 57, 81 masing-masing terdiri dari:
29 ayat
== surat ke : 32, 67, 89 masing-masing terdiri dari:
30 ayat
== surat ke : 14, 68, 69 masing-masing terdiri dari:
52 ayat
Apabila jumlah ayat-ayatnya dijumlahkan :
3+19+29+30+52=133, (atau 19X7).
17. Quran merupakan satu-satunya kitab suci di dunia
ini yang memiliki tanda-tanda khusus (initials) berupa
huruf-huruf (code letters) atau sebagaimana disebut
dalam bahasa Arab “Muqatta-‘aat” yang artinya “kata
singkatan”. Di dalam Quran terdapat sebanyak 29 (dua
puluh sembilan) surat-surat yang diawali dengan 14
(empat belas) macam kombinasi dari 14 (empat belas)
huruf-huruf “Muqatta-‘aat”.
14 huruf-huruf itu• adalah : alif, lam, mim,
ra’, kaf, ha’, yaa’, ain, shad, tha’, shin, qaf, nun,
dan kha’.
14 macam kombinasi huruf adalah :•
1. Alif, lam, mim
2. Kha, mim
3. Alif, lam, ro’
4. Alif, lam, mim, ro’
5. Tho’, sin
6. Tho’, sin, mim
7. Ya’, sin
8. Nun
9. Kaf, kha’, ya’, ain, shod
10. Alif, lam, mim, shod
11. Shod
12. Qof
13. Ain, sin, qof
14. Tho’, ha’
29 surat-surat adalah : surat ke : 2, 3,• 7,
10 11, 12, 13, 14, 15,
19, 20, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 36, 38, 40, 41,
42, 43, 44, 45, 46, 50,
dan 68.
Maka apabila bilangan dari banyaknya huruf, banyaknya
kombinasi, dan banyaknya surat dijumlahkan maka
hasilnya merupakan kelipatan 19, yaitu 14 + 14 + 29 =
57 (atau 19 X 3 ).
Tanda-tanda dengan kata singkatan ini, ahli tafsir
mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Ahli tafsir ada
yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena
dipandang termasuk ayat-ayat ‘mutasyaabihaat’, ada
pula yang berpendapat huruf-huruf abjad itu berfungsi
untuk menarik perhatian para pendengar supaya
memperhatikan bacaan-bacaan dalam Quran.
Namun berkat penemuan angka 19 kini terbukalah maksud
sesungguhnya dari adanya huruf-huruf “Muqatta-‘aat”
tersebut, yaitu berfungsi sebagai penjaga keaslian/
keautentikan Quran karena berhubungan dengan angka 19,
perhatikan demonstrasi berikut :
18. Surat ke-68 diawali huruf ‘Nun’. Setelah diteliti
jumlah huruf ‘Nun’ yang terdapat pada surat tersebut
merupakan kelipatan 19.
Surat ke ‘Nun’ kelipatan 19
68 133 19
X 7
Berikut terjemahan surat ke-68 ayat 2-6 : “Nun. Berkat
kemuliaan Tuhanmu, engkau (Muhammad) sekali-kali bukan
orang gila, dan sesungguhnya bagimu pahala yang besar,
dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti
yang luhur, maka kelak kamu akan melihat dan mereka
(orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara
kamu yang gila.”
19. Surat ke-42 dan surat ke-50 diawali huruf ‘Qof’.
Setelah diteliti huruf ‘Qof’ yang terdapat pada kedua
surat tersebut sebanyak 114 huruf (atau 19 X 6 ). Ada
yang berpendapat bahwa huruf ‘Qof’ ini singkatan dari
kata ‘Quran’ karena Quran terdiri dari 114 surat.
Surat ke ‘Qof’ kelipatan 19
42 57 19 X 3
50 57 + 19 X 3
=114
Hal lain yang mengherankan adalah Allah biasanya
menyebut kaumnya Nabi Luth dengan kalimat “Qaumu
Luuth” yang ditemukan sebanyak 12 kali dalam Quran,
namun pada surat ke-50 ayat 13, sebutan tersebut
berganti menjadi “Ikhwanu Luuth” yang artinya
“saudara-saudaranya Nabi Luuth”. Tampaknya Allah
sengaja menghilangkan unsur ‘Qaf’ dalam kalimat
tersebut agar jumlah huruf ‘Qaf’ dalam Quran tetap
berkelipatan 19, sebab jika tidak diganti maka
jumlahnya akan bertambah menjadi 115.
Berikut terjemahan surat ke-50 ayat: 1-2 : “Qaaf, demi
Al Quran yang sangat mulia, mereka tercengang lantaran
datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari
(kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang
kafir : “Ini sesuatu perkara yang amat aneh”.”
20. Surat ke-42 diawali huruf ‘Ain’, ’Sin’, dan ‘Qof’.
Setelah diteliti jumlah total ketiga huruf tersebut
pada surat ke-42 merupakan kelipatan 19.
Surat ke: ‘Ain’ ‘Sin’ ‘Qof’
total kelipatan 19
42 98 + 54 + 57 = 209
19 X 11
21. Surat ke-36 diawali huruf ‘Ya’, dan ‘Sin’. Setelah
diteliti jumlah total kedua huruf tersebut pada surat
ke-36 merupakan kelipatan 19.
Surat ke: ‘Ya’ ‘Sin’ total
kelipatan 19
36 237 + 48 = 285
19 X 15
22. Surat ke-13 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, ‘Mim’,
dan ‘Ro’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat
ke-13 merupakan kelipatan 19.
Surat ke: ‘Alif’ ‘Lam’ ‘Mim’ ‘Ro’
total kelipatan 19
13 605 + 480 + 260 + 137 = 1482
19 X 78
23. Surat ke-7 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, ‘Mim’, dan
‘Shod’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat
ke-7 merupakan kelipatan 19.
Surat ke: ‘Alif’ ‘Lam’ ‘Mim’ ‘Shod’
total kelipatan 19
7 2529 + 1530 + 1164 + 97 =
5320 19 X 280
24. Surat ke-19 diawali huruf ‘Kaf’, ‘Kha’, ‘Ya’, Ain,
dan ‘Shod’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada
surat ke-19 merupakan kelipatan 19.
Surat ke:‘Kaf’ ‘Kha’ ‘Ya’ Ain‘ Shod’ total
kelipatan 19
19 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798
19 X 42
25. Surat ke-7, 19, dan 38 diawali huruf ‘Shod’. Total
jumlah huruf ‘Shod’ dalam ketiga surat tersebut
ternyata merupakan kelipatan 19.
Surat ke ‘Shod’
7 97
19 26
38 29 +
=152 (19 X 8 )
Ada hal yang menarik, yakni pada surat ke-7 ayat 69
ditemukan kata ‘basthatan’ (jika dieja terdiri dari
huruf ba’, shod, tho’, ta’). Padahal lazimnya kata
tersebut haruslah dieja dengan huruf ba’, sin, tho’,
ta’ (contohnya pada surat ke-2 ayat 247). Menurut
riwayat, pada saat turunnya ayat 69 tersebut Jibril
menyuruh Nabi Muhammad menuliskan kata ‘basthatan’
dengan huruf shod, namun unsur huruf ‘shod’ itu tetap
harus dibaca sebagai huruf ‘sin’, dan hal ini ditandai
dengan huruf sin tersebut ditempatkan sebagai huruf
kecil di atas huruf ‘shod’. Tampak sekali bahwa Allah
memberi tambahan huruf ‘shod’ agar jumlahnya dalam
Quran menjadi berkelipatan 19, sebab jika tidak maka
jumlahnya berkurang menjadi 151.
Berikut terjemahan surat ke-7 ayat 69 : “Apakah kamu
(tidak percaya) dan heran ketika datang kepadamu
peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang
laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan
kepadamu ? Dan ingatlah ketika Allah menjadikan kamu
sebagai angkatan pengganti sesudah lenyapnya kaum Nuh,
dan Tuhan telah ‘melebihkan’ kekuatan tubuh dan
perawakanmu.”
26. Surat ke-40 s/d ke-46 diawali huruf ‘Kha’ dan Mim.
Setelah diteliti jumlah total kedua huruf tersebut
pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.
Surat ke ‘Kha ’Mim
40 64 380
41 48 276
42 53 300
43 44 324
44 16 150
45 31 200
46 36 225
=292 + 1855 = 2147 (atau 19 X 113)
27. Surat ke-10, 11, 12, 14, dan 15 diawali huruf
‘Alif’, ‘Lam’, dan ‘Ro’. Jumlah total huruf-huruf
tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan
19.
Surat ke: ‘Alif’ ‘Lam’ ‘Ro’ total
kelipatan 19
10 1319 + 913 + 257 = 2489 19 X
131
11 1370 + 794 + 325 = 2489 19 X
131
12 1306 + 812 + 257 = 2375 19 X
125
14 585 + 452 + 160 = 1197 19
X 63
15 493 + 323 + 96 = 912
19 X 48
28. Surat ke-2, 3, 29, 30, 31, dan 32 diawali huruf
‘Alif’, ‘Lam’, dan ‘Mim’. Jumlah total huruf-huruf
tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan
19.
Surat ke: ‘Alif’ ‘Lam’ ‘Ro’ total kelipatan 19
2 4502 + 3202 + 2195 = 9899 19 X 521
3 2521 + 1892 + 1249 = 5662 19 X 298
29 774 + 554 + 344 = 1672 19 X 88
30 544 + 393 + 317 = 1254 19 X 66
31 347 + 297 + 173 = 817 19 X 43
32 257 + 155 + 158 = 570 19 X 30
29. Surat ke-19 diawali huruf kaf, ha’, ya’, ain, dan
shod.
Surat ke-20 diawali huruf tho’ dan ha’.
Surat ke-26 diawali huruf tho’, sin, dan mim.
Surat ke-27 diawali huruf tho’ dan sin
Surat ke-28 diawali huruf tho’, sin, dan mim.
Maka perhatikanlah hubungan yang sangat menarik
berikut ini :
Surat ke: ‘Ha’ ‘Tho’ ‘Sin’ Mim
19 175 --- --- ---
20 251 28 --- ---
26 --- 33 94 484
27 --- 27 94 ---
28 --- 19 102 460
426 + 107 + 290 + 944 = 1767 (19 X 93)
Data pada point 29 di atas dapat dijelaskan dalam Ilmu
Matematika. Kumpulan huruf-huruf yang memulai kelima
surat di atas adalah himpunan yang anggota-anggotanya
adalah huruf-huruf yang bersangkutan. Pada kolom
pertama adalah irisan himpunan 1 dan 2 yang adalah
huruf 'Ha' pada surat ke-19 dan 20; yaitu 175+251=426.
Pada kolom kedua adalah 28+33+27+19 yang merupakan
irisan empat himpunan; yaitu himpunan 1 iris, himpunan
2 iris, himpunan 3 iris, himpunan 4 iris, himpunan 5
iris; yang adalah himpunan dengan anggota
huruf Tho'. Lebih lanjut kolom ketiga adalah irisan
himpunan 3 dan 5 dikurangi himpunan 4; yaitu himpunan
dengan anggota huruf 'Mim'.
Hal di atas ini merupakan suatu kenyataan bahwa Quran
perlu dilihat dengan kaca mata orang-orang eksak,
karena tak mungkin diungkap oleh seorang sastrawan.
Lebih jauh tentang keistimewaan Angka 19 :
1. Keistimewaan angka 19 dalam ilmu matematik dikenal
sebagai salah satu ‘Bilangan Prima’ yakni bilangan
yang tak habis dibagi dengan bilangan manapun kecuali
dengan dirinya sendiri. Keistimewaan tersebut
melambangkan bahwa sifat-Nya yang serba MAHA tidak
dibagikan kepada siapapun juga kecuali bagi diri-Nya
sendiri (Surat ke-112 ayat 3).
2. Angka 19 terdiri dari angka 1 dan 9, dimana angka 1
merupakan bilangan pokok pertama dan angka 9 merupakan
bilangan pokok terakhir dalam sistem perhitungan kita.
Keistimewaan tersebut menunjukkan sifat Allah yakni
'Maha Awal dan Maha Akhir' (Surat ke-57 ayat : 3).
3. Angka 1 melambangkan sifat-Nya yang 'Maha Esa'
(surat ke-112 ayat 1), sedangkan angka 9 sebagai
bilangan pokok terbesar melambangkan salah satu
sifatnya yang ke-38 yaitu 'Maha Besar'.
4. Dalam Kalender Tahun Komariyah (Sistem Peredaran
Bulan), terjadinya Tahun Kabisat terjadi pada setiap
19 tahun sekali.
5. Dalam buku "Atlas Anatomi" yang disusun oleh Prof.
Dr. Chr. P. Raven dapat diketahui bahwa sebagian dari
kerangka manusia yaitu : - tulang leher ada 7 ruas,
tulang punggung ada 12 ruas, jadi jumlahnya 19 ruas.
Menurut para biolog, ke-19 ruas tulang tersebut
mempunyai peranan yang sangat penting bagi setiap
manusia karena didalamnya terdapat sumsum yang
merupakan lanjutan dari otak, dengan saraf-saraf yang
menuju ke seluruh bagian tubuh. Adanya gangguan pada
ruas tersebut maka seluruh tubuh akan kehilangan
kekuatan.
6. Pada point 5, juga ditemukan hal yang menarik,
alat-alat tubuh manusia seperti tangan dan kaki
sangatlah penting fungsinya bagi kehidupan kita. Bila
diteliti ternyata terdapat 19 ruas tulang pada
masing-masing tapak tangan/kaki (dengan mengecualikan
ruas-ruas pergelangan tangan). Dan tahukah anda, bila
bentuk tapak tangan/ kaki kita menyerupai bentuk kata
Allah (dalam Bahasa Arab) ?
Bahwa angka 19 adalah kode matematik yang
melatarbelakangi komposisi literer Quran, suatu
fenomena unik yang tiada duanya yang sekaligus
membuktikan bahwa Quran adalah wahyu Illahi, bukan
karya manusia. Otak manusia tidak akan mampu mencipta
karya literer yang tunduk pada suatu kode matematik
yang sekaligus membawa tema utamanya. Apalagi
mengingat turunnya wahyu secara berangsur-angsur,
dengan bahagian-bahagian surat yang acak tidak
berurutan, disesuaikan dengan peristiwa-peristiwa yang
melatar-belakanginya.
Selanjutnya angka 19 dapat berfungsi sebagai
pemeliharaan keutuhan Quran. Angka 19 dapat digunakan
untuk mencek apakah dalam sebuah kitab Quran terdapat
suatu kesalahan atau tidak, dengan cara menghitung
kata-kata krusial yang jumlahnya dalam Quran
multiplikatif dengan angka 19, kemudian membagi angka
hasil hitungan dengan 19, maka akan terlacaklah ada
atau tidaknya suatu kesalahan. Demikianlah seluruh isi
Quran seutuhnya akan tetap asli hingga di akhir zaman
karena telah disegel oleh-Nya dengan angka 19 yang
merupakan lambang identitas-Nya. Wallahu a’lam
bissawab.
Sebagai bahan renungan saya cuplikkan beberapa ayat di
bawah ini :
Surat ke-15 ayat 9 : “Sesungguhnya Kami yang
menurunkan Al Quran dan Kami pulalah yang tetap
menjaganya.”
Surat ke 41 ayat 42 : “Yang tidak datang kepadanya
(Quran) kesalahan/kekeliruan baik dari depan maupun
dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha
Bijaksana lagi Maha Terpuji.”
Surat ke-86 ayat 13 : “Sesungguhnya Al Quran itu
benar-benar firman-Nya yang membedakan antara yang
benar dengan yang salah.”
Surat ke-18 ayat 27 : “Dan bacakanlah apa yang
diwahtukan kepadamu yaitu Kitab Tuhanmu (Quran). Tidak
ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya.
Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung
selain dari pada-Nya.”
"1) Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun
hanya sekadar senyuman.
2) Dunia ini umpama lautan yg luas. Kita adalah kapal yg belayar di
lautan telah ramai kapal karam didalamnya.. andai muatan kita adalah
iman, dan layarnya takwa, nescaya kita akan selamat dari tersesat di
lautan hidup ini.
3) Hidup tak selalunya indah tapi yang indah itu tetap hidup dalam
kenangan.
4) Setiap yang kita lakukan biarlah jujur kerana kejujuran itu telalu
penting dalam sebuah kehidupan. Tanpa kejujuran hidup sentiasa menjadi
mainan orang.
5) Hati yg terluka umpama besi bengkok walau diketuk sukar kembali
kepada bentuk asalnya.
6) Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada
kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu.
7) Ikhlaslah menjadi diri sendiri agar hidup penuh dengan ketenangan dan
keamanan. Hidup tanpa pegangan ibarat buih-buih sabun. Bila-bila masa ia
akan pecah.
8) Kegagalan dalam kemuliaan lebih baik daripada kejayaan dalam
kehinaan. Memberi sedikit dengan ikhlas pula lebih mulia dari memberi dengan
banyak tapi diiringi dengan riak.
9) Tidak ada insan suci yang tidak mempunyai masa lampau dan tidak ada
insan yang berdosa yang tidak mempunyai masa depan.
10) Kata-kata yang lembut dapat melembutkan hati yang lebih keras dari
batu.Tetapi kata-kata yang kasar dapat mengasarkan hati yang lunak seperti
sutera.
11) Lidah yang panjangnya tiga inci boleh membunuh manusia yang
tingginya enam kaki.
12) Agama tidak pernah mengecewakan manusia. Tetapi manusia yang selalu
mengecewakan agama.
13) Nafsu mengatakan perempuan itu cantik atas dasar rupanya. Akal
mengatakan perempuan itu cantik atas dasar ilmu dan kepintarannya. Dan
hati mengatakan perempuan itu cantik atas dasar akhlaknya.
14) Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam di atas batu yang hitam di
malam yang amat kelam. Ianya wujud tapi amat sukar dilihat.
15) Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan memerlukan perjuangan.
Perjuangan memerlukan ketabahan. Ketabahan memerlukan keyakinan.
Keyakinan pula menentukan kejayaan. Kejayaan pula akan menentukan
kebahagiaan.
16) Seseorang yang bijak melahirkan kata-kata selalunya disanjung
sehingga ia mula bercakap kosong
17) Harta akan habis digunakan tanpa ilmu tetapi sebaliknya ilmu akan
berkembang jika ianya digunakan.
18) Kekayaan bukanlah satu dosa dan kecantikan bukanlah satu kesalahan.
Oleh itu jika anda memiliki kedua-duanya janganlah anda lupa pada Yang Maha
Berkuasa.
19) Sahabat yang tidak jujur ibarat dapur yang berhampiran. Jikalau pun
kamu tidak terkena jelaganya sudah pasti akan terkena asapnya.
20) Mengapa manusia gemar mencetuskan pertelingkahan sedangkan manusia
itu sendiri dilahirkan dari sebuah kemesraan.
21) Kita sentiasa muda untuk melakukan dosa tetapi tidak pernah tua
untuk bertaubat.
22) Gantungkan azam dan semangatmu setinggi bintang di langit dan
rendahkan hatimu serendah mutiara di lautan.
23) Setiap mata yang tertutup belum bererti ia tidur. Setiap mata
terbuka belum bererti ia melihat.
24) Jadikan dirimu bagai pohon yang rendang di mana insan dapat
berteduh.
Jangan seperti pohon kering tempat sang pungguk melepas rindu dan hanya
layak dibuat kayu api.
25) Menulis sepuluh jilid buku mengenai falsafah lebih mudah daripada
melaksanakan sepotong pesanan.
26) Jangan menghina barang yang kecil kerana jarum yang kecil itu
kadang-kadang menumpahkan darah.
27) Kegembiraan ibarat semburan pewangi, pabila kita memakainya semua
akan dapat merasa keharumannya. Oleh itu berikanlah walau secebis
kegembiraan yang anda miliki itu kepada teman anda.
28) Esok pasti ada tetapi esok belum pasti untuk kita. Beringat-ingatlah
untuk menghadapi esok yang pastikan mendatang.
29) Reaksi emosi jangan dituruti kerana implikasinya tidak seperti yang
diimaginasi .
30) Sahabat yang beriman ibarat mentari yang menyinar. Sahabat yang
setia bagai pewangi yang mengharumkan. Sahabat sejati menjadi pendorong
impian. Sahabat berhati mulia membawa kita ke jalan Allah.
31) Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca
kerana membaca itu sumber hikmah menyediakan waktu tertawa kerana
tertawa itu muziknya jiwa, menyediakan waktu untuk berfikir kerana
berfikir itu pokok kemajuan, menyediakan waktu untuk beramal kerana
beramal itu pangkal kejayaan, menyediakan waktu untuk bersenda kerana
bersenda itu akan membuat muda selalu dan menyediakan waktu beribadat kerana
beribadat itu adalah
ibu dari segala ketenangan jiwa.
32) Penglihatan itu sebagai panah iblis yang berbisa, maka siapa yang
mengelakkannya kerana takut padaKu, maka Aku akan menggantikannya dengan
iman yang dirasakan manisnya dalam hati...
33) "Wanita yang cantik tanpa peribadi yang mulia, umpama kaca mata yang
bersinar-bersinar, tetapi tidak melihat apa-apa"
34) "Kekecewaan mengajar kita erti kehidupan. Teruskan perjuangan kita
walaupun terpaksa menghadapi rintangan demi rintangan dalam hidup"
35) Tanda Orang Bijaksana Ialah Hatinya Selalu Berniat Suci; Lidahnya
Selalu Basah Dengan Zikrullah; Matanya Menangis Kerana Penyesalan
(Terhadap Dosa);
Sabar Terhadap Perkara Yang Dihadapi Dan Mengutamakan Akhirat Berbanding
Dunia.
36) Jika kejahatan di balas kejahatan, maka itu adalah dendam. Jika
kebaikan dibalas kebaikan itu adalah perkara biasa. Jika kebaikan
dibalas kejahatan,
itu adalah zalim. Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia
dan terpuji."
37) "Hidup umpama aiskrim. Nikmatilah ia sebelum cair"
38) "Kata-kata itu sebenarnya tidak mempunyai makna utk menjelaskan
perasaan. Manusia boleh membentuk seribu kata-kata, seribu bahasa. Tapi
kata-kata bukan bukti unggulnya perasaan"
39) "Hidup tidak boleh berpandukan perasaan hati yg kadangkala boleh
menjahanamkan diri sendiri. Perkara utama harus kita fikirkan ialah
menerima sesuatu atau membuat sesuatu dgn baik berlandaskan kenyataan"
40) "Hidup adalah gabungan antara bahagia dan derita. Ia adalah menguji
keteguhan iman seseorang. Malangnya bagi mereka yg hanya mengikut
kehendak hati tidak sanggup menerima penderitaan.
41) Hadiah Terbaik :
Kepada kawan - Kesetiaan
Kepada musuh - Kemaafan
Kepada ketua - Khidmat
Kepada yang muda - Contoh terbaik
Kepada yang tua - Hargai budi mereka dan kesetiaan.
Kepada pasangan - Cinta dan ketaatan
Kepada manusia - Kebebasan
42) "Berfikir secara rasional tanpa dipengaruhi oleh naluri atau emosi
merupakan satu cara menyelesaikan masalah yg paling berkesan"
43) "Hiduplah seperti lilin menerangi orang lain, janganlah hidup
seperti duri mencucuk diri dan menyakiti orang lain."
44) "Dunia ini ibarat pentas. Kita adalah pelakonnya. Maka
berlumba-lumbalah beramal supaya hidup bahagia di dunia dan akhirat"
45) "Akal itu menteri yang menasihati, Hati itu ialah raja yang
menentukan,
Harta itu satu tamu yang akan berangkat, kesenangan itu satu masa yang
ditinggalkan".
46) "Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak boleh mencari sahabat dan
orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg
telah dicari"
47) "Cakap sahabat yg jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg
diwarisi dari nenek moyang"
48) "Ingatlah, sabar itu iman, duit bukan kawan, dunia hanya pinjaman
dan mati tak ber teman.."
49) "Lidahmu adalah bentengmu, jika e***** menjaganya maka ia akan
menjagamu, dan jika e***** membiarkannya maka ia tidak akan
mempedulikanmu"
50) "Orang yg paling berkuasa adalah orang yg dapat menguasai dirinya
sendiri"
51) "Seseorang menganggap sekatan sebagai batu penghalang, Sedangkan
orang lain menganggapnya sebagai batu lonjatan."
52) "Kalau kita melakukan semua yang kita upaya lakukan, sesungguhnya
kita akan terkejut dengan hasilnya."
53) "Kita selalu lupa atau jarang ingat apa yang kita miliki, tetapi
kita sering kali ingat apa yang ora ng lain ada."
54) "Apa yang diperolehi dalam hidup ini, adalah sepenuhnya daripada apa
yang kita berikan padanya."
55) "Fikirkan hal-hal yang paling hebat, Dan e***** akan menjadi
terhebat. Tetapkan akal pada hal tertinggi, Dan e***** akan mencapai yang
tertinggi."
56) "Dunia ini tiada jaminan melainkan satu peluang."
57) "Kehidupan kita di dunia ini tidak menjanjikan satu jaminan yang
berkekalan. Apa yang ada hanyalah percubaan, cabaran dan pelbagai
peluang.
Jaminan yang kekal abadi hanya dapat ditemui apabila kita kembali semula
ke pada Ilahi."
58) "Rahsia kejayaan hidup adalah persediaan manusia untuk menyambut
kesempatan yang menjelma."
59) "Kekuatan tidak datang dari kemampuan fizikal,tetapi ianya datang
dari semangat yang tidak pernah mengalah."
60) "Mengetahui perkara yang betul tidak memadai dan bermakna jika tidak
melakukan perkara yang betul."
61) "Kecemerlangan adalah hasil daripada sikap yang ingin sentiasa
melakukan yang terbaik."
62) "Jadikan sebagai aturan hidup untuk melakukan yang terbaik dalam apa
jua yang dilakukan, pasti akan menghasil kecemerlangan
kasihnya Muhamat s.a.w pada umatnya...kita...
Rasulullah SAW Menangis Ketika Di Padang Mahsyar
Ibnu Abbas ra berkata: “Orang yang pertama dibangkitkan dari kubur di hari kiamat ialah Muhammad SAW. Jibril as akan datang kepadanya bersama seekor Buraq. Israfil pula datang dengan membawa bersama bendera dan mahkota. Izrail pula datang dengan membawa bersamanya pakaian-pakaian syurga.”
Jibril as akan menyeru: “Wahai dunia! Di mana kubur Muhammad SAW?”
Bumi akan berkata: “Sesungguhnya, Tuhanku telah menjadikan aku hancur. Telah hilang segala lingkaran, tanda dan gunung-ganangku. Aku tidak tahu dimana kubur Muhammad SAW.”
Rasulullah SAW bersabda: “Lalu diangkatkan tiang-tiang dari cahaya dari kubur Nabi Muhammad SAW ke awan langit. Maka, empat malaikat berada di atas kubur.”
Israfil bersuara: “Wahai roh yang baik! Kembalilah ke tubuh yang baik!”
Maka, kubur terbelah dua. Pada seruan yang kedua pula, kubur mula terbongkar. Pada seruan yang ketiga, ketika Rasulullah SAW berdiri, baginda SAW telah membuang tanah di atas kepala dan janggut baginda SAW. Baginda SAW melihat kanan dan kiri. Baginda SAW dapati, tiada lagi bangunan. Baginda SAW menangis sehingga mengalir air matanya ke pipi.
Jibril as berkata kepadanya: “Bangun wahai Muhammad! Sesungguhnya kamu di sisi Allah Taala di tempat yang luas.”
Baginda SAW bertanya, “Kekasihku Jibril! Hari apakah ini?”
Jibril as menjawab: “Wahai Muhammad! Janganlah kamu takut! Inilah hari kiamat. Inilah hari kerugian dan penyesalan. Inilah hari pembentangan Allah Taala.”
Baginda SAW bersabda: “Kekasihku Jibril! Gembirakanlah aku!”
Jibril as berkata: “Apakah yang kamu lihat di hadapanmu?”
Baginda SAW bersabda: “Bukan seperti itu pertanyaanku.”
Jibril as berkata: “Adakah kamu tidak melihat bendera kepujian yang terpacak di atasmu?”
Baginda SAW bersabda: “Bukan itu maksud pertanyaanku. Aku bertanya kepadamu akan umatku. Di mana perjanjian mereka?”
Jibril as berkata: “Demi keagungan Tuhanku! Tidak akan terbongkar oleh bumi daripada manusia, sebelummu?”
Baginda SAW bersabda: “Nescaya akan, kuatlah pertolongan pada hari ini. Aku akan mensyafaatkan umatku.”
Jibril as berkata kepada baginda SAW: “Tungganglah Buraq ini wahai Muhammad SAW dan pergilah ke hadapan Tuhanmu!”
Jibril as datang bersama Buraq ke arah Nabi Muhammad SAW. Buraq cuba meronta-ronta. Jibril as berkata kepadanya: “Wahai Buraq! Adakah kamu tidak malu dengan makhluk yang paling baik dicipta oleh Allah Taala? Sudahkah Allah Taala perintahkan kepadamu agar mentaatinya?”
Buraq berkata: “Aku tahu semua itu. Akan tetapi, aku ingin dia mensyafaatiku agar memasuki syurga sebelum dia menunggangku. Sesungguhnya, Allah Taala akan datang pada hari ini di dalam keadaan marah. Keadaan yang belum pernah terjadi sebelum ini.”
Baginda SAW bersabda kepada Buraq: “Ya! Sekiranya kamu berhajatkan syafaatku, nescaya aku memberi syafaat kepadamu.”
Setelah berpuas hati, Buraq membenarkan baginda SAW menunggangnya lalu dia melangkah. Setiap langkahan Buraq sejauh pandangan mata. Apabila Nabi Muhammad SAW berada di Baitul Maqdis di atas bumi dari perak yang putih, malaikat Israfil as menyeru: “Wahai tubuh-tubuh yang telah hancur, tulang-tulang yang telah reput, rambut-rambut yang bertaburan dan urat-urat yang terputus-putus! Bangkitlah kamu dari perut burung, dari perut binatang buas, dari dasar laut dan dari perut bumi ke perhimpunan Tuhan yang Maha Perkasa.
Roh-roh telah diletakkan di dalam tanduk atau sangkakala. Di dalamnya ada beberapa tingkat dengan bilangan roh makhluk. Setiap roh, akan didudukkan berada di dalam tingkat. Langit di atas bumi akan menurunkan hujan dari lautan kehidupan akan air yang sangat pekat seperti air mani lelaki. Daripadanya, terbinalah tulang-tulang. Urat-urat memanjang. Daging kulit dan bulu akan tumbuh. Sebahagian mereka akan kekal ke atas sebahagian tubuh tanpa roh.
Allah Taala berfirman: “Wahai Israfil! Tiup tanduk atau sangkakala tersebut dan hidupkan mereka dengan izinKu akan penghuni kubur. Sebahagian mereka adalah golongan yang gembira dan suka. Sebahagian dari mereka adalah golongan yang c*l*k* dan derita.”
Malaikat Israfil as menjerit: “Wahai roh-roh yang telah hancur! Kembalilah kamu kepada tubuh-tubuh mu. Bangkitlah kamu untuk dikumpulkan di hadapan Tuhan semesta alam.”
Allah Taala berfirman:
“Demi keagungan dan ketinggianKu! Aku kembalikan setiap roh pada tubuh-tubuhnya!”
Apabila roh-roh mendengar sumpah Allah Taala, roh-roh pun keluar untuk mencari jasad mereka. Maka, kembalilah roh pada jasadnya. Bumi pula terbongkar dan mengeluarkan jasad-jasad mereka. Apabila semuanya sedia, masing-masing melihat.
Nabi SAW duduk di padang pasir Baitul Maqdis, melihat makhluk-makhluk. Mereka berdiri seperti belalang yang berterbangan. 70 umat berdiri. Umat Nabi Muhammad SAW merupakan satu umat (kumpulan). Nabi SAW berhenti memperhatikan ke arah mereka. Mereka seperti gelombang lautan.
Jibril as menyeru: “Wahai sekalian makhluk, datanglah kamu semua ke tempat perhimpunan yang telah disediakan oleh Allah Taala.”
Umat-umat datang di dalam keadaan satu-satu kumpulan. Setiap kali Nabi Muhammad SAW berjumpa satu umat, baginda SAW akan bertanya: “Di mana umatku?”
Jibril as berkata: “Wahai Muhammad! Umatmu adalah umat yang terakhir.”
Apabila nabi Isa as datang, Jibril as menyeru: Tempatmu!” Maka nabi Isa as dan Jibril as menangis.
Nabi Muhammad SAW berkata: “Mengapa kamu berdua menangis.”
Jibril as berkata: “Bagaimana keadaan umatmu, Muhammad?”
Nabi Muhammad bertanya: “Di mana umatku?”
Jibril as berkata: “Mereka semua telah datang. Mereka berjalan lambat dan perlahan.”
Apabila mendengar cerita demikian, Nabi Muhammad SAW menangis lalu bertanya: “Wahai Jibril! Bagaimana keadaan umatku yang berbuat dosa?”
Jibril as berkata: “Lihatlah mereka wahai Muhammad SAW!”
Apabila Nabi Muhammad SAW melihat mereka, mereka gembira dan mengucapkan selawat kepada baginda SAW dengan apa yang telah Allah Taala muliakannya. Mereka gembira kerana dapat bertemu dengan baginda SAW. Baginda SAW juga gembira terhadap mereka. Nabi Muhammad SAW bertemu umatnya yang berdosa. Mereka menangis serta memikul beban di atas belakang mereka sambil menyeru: “Wahai Muhammad!”
Air mata mereka mengalir di pipi. Orang-orang zalim memikul kezaliman mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Wahai umatku.” Mereka berkumpul di sisinya. Umat-umatnya menangis.
Ketika mereka di dalam keadaan demikian, terdengar dari arah Allah Taala seruan yang menyeru: “Di mana Jibril?”
Jibril as berkata: “Jibril di hadapan Allah, Tuhan semesta alam.”
Allah Taala berfirman di dalam keadaan Dia amat mengetahui sesuatu yang tersembunyi: “Di mana umat Muhammad SAW?”
Jibril as berkata: “Mereka adalah sebaik umat.”
Allah Taala berfirman: “Wahai Jibril! Katakanlah kepada kekasihKu Muhammad SAW bahawa umatnya akan datang untuk ditayangkan di hadapanKu.”
Jibril as kembali di dalam keadaan menangis lalu berkata: “Wahai Muhammad! Umatmu telah datang untuk ditayangkan kepada Allah Taala.”
Nabi Muhammad SAW berpaling ke arah umatnya lalu berkata: “Sesungguhnya kamu telah dipanggil untuk dihadapkan kepada Allah Taala.”
Orang-orang yang berdosa menangis kerana terkejut dan takut akan azab Allah Taala. Nabi Muhammad SAW memimpin mereka sebagaimana pengembala memimpin ternakannya menuju di hadapan Allah Taala. Allah Taala berfirman: “Wahai hambaKu! Dengarkanlah kamu baik-baik kepadaKu tuduhan apa-apa yang telah diperdengarkan bagi kamu dan kamu semua melakukan dosa!”
Hamba-hamba Allah Taala terdiam. Allah Taala berfirman: “Hari ini, Kami akan membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan. Hari ini, Aku akan memuliakan sesiapa yang mentaatiKu. Dan, Aku akan mengazab sesiapa yang menderhaka terhadapKu. Wahai Jibril! Pergi ke arah Malik, penjaga neraka! Katakanlah kepadanya, bawakan Jahanam!”
Jibril pergi berjumpa Malik, penjaga neraka lalu berkata: “Wahai Malik! Allah Taala telah memerintahkanmu agar membawa Jahanam.”
Malik bertanya: “Apakah hari ini?”
Jibril menjawab: “Hari ini adalah hari kiamat. Hari yang telah ditetapkan untuk membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan.”
Malik berkata: “Wahai Jibril! Adakah Allah Taala telah mengumpulkan makhluk?”
Jibril menjawab: “Ya!”
Malik bertanya: “Di mana Muhammad dan umatnya?”
Jibril berkata: “Di hadapan Allah Taala!”
Malik bertanya lagi: “Bagaimana mereka mampu menahan kesabaran terhadap kepanasan nyalaan Jahanam apabila mereka melintasinya sedangkan mereka semua adalah umat yang lemah?”
Jibril berkata: “Aku tidak tahu!”
Malik menjerit ke arah neraka dengan sekali jeritan yang menggerunkan. Neraka berdiri di atas tiang-tiangnya. Neraka mempunyai tiang-tiang yang keras, kuat dan panjang. Api dinyalakan sehingga tiada kekal mata seorang dari makhluk melainkan bercucuran air mata mereka (semuanya menangis).
Air mata sudah terhenti manakala air mata darah manusia mengambil alih. Kanak-kanak mula beruban rambut. Ibu-ibu yang memikul anaknya mencampakkan mereka. Manusia kelihatan mabuk padahal mereka sebenarnya tidak mabuk.
Rasulullah SAW Membela Umatnya
Di padang mahsyar orang yang mula-mula berusaha ialah nabi Ibrahim as. Baginda bergantung dengan asap Arsy yang naik lalu menyeru: “TuhanKu dan Penguasaku! Aku adalah khalilMu Ibrahim. Kasihanilah kedudukanku pada hari ini! Aku tidak meminta kejayaan Ishak dan anakku pada hari ini.”
Allah Taala berfirman: “Wahai Ibrahim! Adakah kamu melihat Kekasih mengazab kekasihnya.”
Nabi Musa as datang. Baginda bergantung dengan asap Arsy yang naik lalu menyeru: “KalamMu. Aku tidak meminta kepadaMu melainkan diriku. Aku tidak meminta saudaraku Harun. Selamatkanlah aku dari kacau bilau Jahanam!”
Isa as datang di dalam keadaan menangis. Baginda bergantung dengan Arsy lalu menyeru: “Tuhanku... Penguasaku.. Penciptaku! Isa roh Allah. Aku tidak meminta melainkan diriku. Selamatkanlah aku dari kacau bilau Jahanam!”
Suara jeritan dan tangisan semakin kuat. Nabi Muhammad SAW menyeru: “Tuhanku.. Penguasaku Penghuluku.. .. !Aku tidak meminta untuk diriku. Sesungguhnya aku meminta untuk umatku dariMu!”
Ketika itu juga, neraka Jahanam berseru: “Siapakah yang memberi syafaat kepada umatnya?”
Neraka pula berseru: “Wahai Tuhanku... Penguasaku dan Penghuluku! Selamatkanlah Muhammad dan umatnya dari seksaannya! Selamatkanlah mereka dari kepanasanku, bara apiku, penyeksaanku dan azabku! Sesungguhnya mereka adalah umat yang lemah. Mereka tidak akan sabar dengan penyeksaan.”
Malaikat Zabaniah menolaknya sehingga terdampar di kiri Arsy. Neraka sujud di hadapan Tuhannya.
Allah Taala berfirman: “Di mana matahari?” Maka, matahari dibawa mengadap Allah Taala. Ia berhenti di hadapan Allah Taala.
Allah Taala berfirman kepadanya: “Kamu! Kamu telah memerintahkan hambaKu untuk sujud kepada kamu?”
Matahari menjawab. “Tuhanku! Maha Suci diriMu! Bagaimana aku harus memerintahkan mereka berbuat demikian sedangkan aku adalah hamba yang halus?”
Allah Taala berfirman: “Aku percaya!”
Allah Taala telah menambahkan cahaya dan kepanasannya sebanyak 70 kali ganda. Ia telah dihampirkan dengan kepala makhluk.”
Ibnu Abbas r.h. berkata: “Peluh manusia bertiti dan sehingga mereka berenang di dalamnya. Otak-otak kepala mereka menggeleggak seperti periuk yang sedang panas. Perut mereka menjadi seperti jalan yang sempit.
Air mata mengalir seperti air mengalir. Suara ratap umat-umat manusia semakin kuat.
Nabi Muhammad SAW lebih-lebih lagi sedih. Air matanya telah hilang dan kering dari pipinya. Sekali, baginda SAW sujud di hadapan Arsy dan sekali lagi, baginda SAW rukuk untuk memberi syafaat bagi umatnya.
Para Nabi melihat keluh kesah dan tangisannya. Mereka berkata: “Maha Suci Allah! Hamba yang paling dimuliakan Allah Taala ini begitu mengambil berat, hal keadaan umatnya.
Daripada Thabit Al-Bani, daripada Usman Am Nahari berkata: “Pada suatu hari Nabi SAW menemui Fatimah Az-Zahara’ r.h. Baginda SAW dapati, dia sedang menangis.”
Baginda SAW bersabda: “Permata hatiku! Apa yang menyebabkan dirimu menangis?”
Fatimah menjawab: “Aku teringat akan firman Allah Taala.”
“Dan, kami akan mehimpunkan, maka Kami tidak akan mengkhianati walau seorang daripada mereka.”
Lalu Nabi SAW pun menangis. Baginda SAW bersabda: “Wahai permata hatiku! Sesungguhnya, aku teringat akan hari yang terlalu dahsyat. Umatku telah dikumpulkan pada hari kiamat dikelilingi dengan perasaan dahaga dan telanjang. Mereka memikul dosa mereka di atas belakang mereka. Air mata mereka mengalir di pipi.”
Fatimah r.h. berkata: “Wahai bapaku! Apakah wanita tidak merasa malu terhadap lelaki?”
Baginda SAW menjawab: “Wahai Fatimah! Sesungguhnya, hari itu, setiap orang akan sibuk dengan untung nasib dirinya. Adapun aku telah mendengar Firman Allah Taala:” Bagi setiap orang dari mereka, di hari itu atau satu utusan yang melalaikan dia.
( Abasa: 37)
Fatimah ra. bertanya: “Di mana aku hendak mendapatkanmu di hari kiamat nanti, wahai bapaku?”
Baginda SAW menjawab: “Kamu akan menjumpaiku di sebuah telaga ketika aku sedang memberi minum umatku.”
Fatimah r.h. bertanya lagi: “Sekiranya aku dapati kamu tiada di telaga?”
Baginda SAW bersabda: “Kamu akan menjumpaiku di atas Sirat sambil dikelilingi para Nabi. Aku akan menyeru: “Tuhan Kesejahteraan! Tuhan Kesejahteraan! Para malaikat akan menyambut: “Aamiin.”
Ketika itu juga, terdengar seruan dari arah Allah Taala lalu berfirman: “Nescaya akan mengikuti kata-katanya pada apa yang kamu sembah.”
Setiap umat akan berkumpul dengan sesuatu yang mereka sembah. Ketika itu juga, neraka Jahanam melebarkan tengkuknya lalu menangkap mereka sebagaimana burung mematuk kacang.
Apabila seruan dari tengah Arsy kedengaran, maka manusia yang menyembahNya datang beriring. Sebahagian daripada orang yang berdiri di situ berkata: “Kami adalah umat Muhammad SAW!”
Allah Taala berfirman kepada mereka: “Mengapa kamu tidak mengikuti orang yang kamu sembah?”
Mereka berkata: “Kami tidak menyembah melainkan Tuhan Kami. Dan, kami tidak menyembah selainNya.”
Mereka ditanya lagi: “Kami mengenali Tuhan kamu?”
Mereka menjawab: “Maha Suci diriNya! Tiada yang kami kenali selainNya.”
Apabila ahli neraka dimasukkan ke dalamnya untuk diazab, umat Muhammad SAW mendengar bunyi pukulan dan jeritan penghuni neraka. Lalu malaikat Zabaniah mencela mereka. Mereka berkata: “Marilah kita pergi meminta syafaat kepada Muhammad SAW!”
Manusia berpecah kepada tiga kumpulan.
1. Kumpulan orang tua yang menjerit-jerit.
2. Kumpulan pemuda.
3. Wanita yang bersendirian mengelilingi mimbar-mimbar.
Mimbar para Nabi didirikan di atas kawasan lapang ketika kiamat. Mereka semua berminat terhadap mimbar Nabi Muhammad SAW. Mimbar Nabi Muhammad SAW terletak berhampiran dengan tempat berlaku kiamat. Ia juga merupakan mimbar yang paling baik, besar dan cantik. Nabi adam as dan isterinya Hawa berada di bawah mimbar Nabi SAW.
Hawa melihat ke arah mereka lalu berkata: “Wahai Adam! Ramai dari zuriatmu dari umat Muhammad SAW serta cantik wajah mereka. Mereka menyeru: “Di mana Muhammad?”
Mereka berkata: “Kami adalah umat Muhammad SAW. Semua umat telah mengiringi apa yang mereka sembah. Hanya tinggal kami sahaja. Matahari di atas kepala kami. Ia telah membakar kami. Neraka pula, cahaya juga telah membakar kami. Timbangan semakin berat. Oleh itu tolonglah kami agar memohon kepada Allah Taala untuk menghisab kami dengan segera! Sama ada kami akan pergi ke syurga atau neraka.”
Nabi Adam as berkata: “Pergilah kamu dariku! Sesungguhnya aku sibuk dengan dosa-dosaku. Aku mendengar firman Allah Taala: Dan dosa Adam terhadap Tuhannya kerana lalai. Mereka pergi berjumpa nabi Nuh as yang telah berumur, umur yang panjang dan sangat sabar. Mereka menghampirinya. Apabila nabi Nuh as melihat mereka, dia berdiri.
Pengikut (umat Nabi Muhammad SAW) berkata: “Wahai datuk kami, Nuh! Tolonglah kami terhadap Tuhan kami agar Dia dapat memisahkan di antara kami dan mengutuskan kami dari ahli syurga ke syurga dan ahli neraka ke neraka.”
Nabi Nuh as berkata: “Sesungguhnya, aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah mendoakan agar kaumku dimusnahkan. Aku malu dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Ibrahim kekasih Allah Taala! Mintalah kepadanya agar menolong kamu!”
Nabi Ibrahim as berkata: “Sesungguhnya aku pernah berbohong di dalam usiaku sebanyak tiga pembohongan di dalam Islam. Aku takut dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Musa as! Mintalah pertolongan darinya!”
Nabi Musa as berkata: “Aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah membunuh seorang jiwa tanpa hak. Aku membunuhnya bukan dari kemahuanku sendiri. Aku dapati dia melampaui batas terhadap seorang lelaki Islam. Aku ingin memukulnya. Aku terperanjat kerana menyakitinya lalu menumbuk lelaki tersebut. Ia jatuh lalu mati. Aku takut terhadap tuntutan dosaku. Pergilah kamu berjumpa Isa as!”
Mereka pergi berjumpa nabi Isa a.s. Nabi Isa a.s. berkata: “Sesungguhnya Allah Taala telah melaknat orang-orang Kristian. Mereka telah mengambil aku, ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah Taala. Hari ini, aku malu untuk bertanya kepadaNya mengenai ibuku Mariam.”
Mariam, Asiah, Khadijah dan Fatimah Az-Zahra’ sedang duduk. Ketika Mariam melihat umat Nabi Muhammad SAW dia berkata: “Ini umat Nabi Muhammad SAW. Mereka telah sesat dari Nabi mereka.”
Suara Mariam, telah didengari oleh Nabi Muhammad SAW Nabi Adam a.s. berkata kepada nabi Muhammad SAW. “Ini umatmu, wahai Muhammad! Mereka berkeliling mencarimu untuk meminta syafaat kepada Allah Taala.”
Nabi Muhammad SAW menjerit dari atas mimbar lalu bersabda: “Marilah kepadaku, wahai umatku! Wahai sesiapa yang beriman dan tidak melihatku. Aku tidak pernah lari dari kamu melainkan aku sentiasa memohon kepada Allah Taala untukmu!”
Umat Nabi Muhammad SAW berkumpul di sisinya.
Terdengar suara seruan: “Wahai Adam! Ke marilah kepada Tuhanmu!” Nabi Adam as berkata: “Wahai Muhammad! Tuhanku telah memanggilku. Moga-moga Dia akan meminta kepadaku.”
Nabi Adam as pergi menemui Allah Taala. Allah Taala berfirman kepadanya: “Wahai Adam! Bangunlah dan hantarkan anak-anakmu ke neraka!”
Nabi Adam as bertanya: “Berapa ramai untukku kirimkan?”
Allah Taala berfirman: Setiap seribu lelaki kamu hantarkan seorang ke syurga, 999 orang ke neraka.”
Allah Taala berfirman lagi:
“Wahai Adam! Sekiranya Aku tidak melaknat orang yang berdusta dan Aku haramkan pembohongan, nescaya Aku akan mengasihi anakmu keseluruhannya. Akan, tetapi, Aku telah janjikan syurga bagi orang yang mentaatiKu Neraka pula bagi orang yang menderhakaiKu Aku tidak akan memungkiri janji Wahai Adam! Berhentilah di sisi Mizan (timbangan). Sesiapa yang mempunyai berat pada kebaikannya daripada dosanya walaupun seberat biji sawi, bawalah dia untuk memasuki syurga tanpa perlu berunding denganKu! Sesungguhnya Aku telah menjadikan bagi mereka, satu kejahatan dengan satu dosa. Manakala satu kebaikan dengan sepuluh pahala agar memberitahu mereka bahawa, sesungguhnya Aku tidak akan memasukkan mereka ke dalam neraka melainkan setiap yang kembali akan dikembalikan dengan dosa bagi orang yang melampaui batas.”
Nabi Adam as berkata: “Tuhanku! Penguasaku! Engkau lebih utama bagi menghisab berbanding aku. Hamba itu adalah hambaMu dan Engkau Maha Mengetahui sesuatu yang ghaib!”
Umat Muhammad SAW Diseru Meniti Sirat
Allah Taala menyeru: “Wahai Muhammad! Bawalah umatmu untuk dihisab dan lintaskan mereka di atas Sirat yang dilebarkan. Panjangnya sejauh 500 tahun perjalanan.”
Malaikat Malik berdiri di pintunya (neraka). Dia menyeru: “Wahai Muhammad! Sesiapa yang datang dari umatmu dan bersamanya ada perlepasan dari Allah Taala, maka dia akan terselamat. Sekiranya sebaliknya maka, dia akan terjatuh di dalam neraka. Wahai Muhammad! Katakan kepada orang yang diringankan agar berlari! Katakan kepada orang yang diberatkan agar berjalan!”
Nabi Muhammad SAW bersabda kepada malaikat Malik: “Wahai Malik! Dengan kebenaran Allah Taala ke atasmu, palingkanlah wajahmu dari umatku sehingga mereka dapat melepasi! Jika tidak, hati mereka akan gementar apabila melihatmu.”
Malaikat Malik memalingkan mukanya dari umat Nabi Muhammad SAW. Umat Nabi Muhammad SAW telah di pecahkan kepada sepuluh kumpulan. Nabi Muhammad SAW mendahului mereka lalu bersabda kepada umatnya: “Ikutlah aku wahai umatku di atas Sirat ini!”
Kumpulan pertama berjaya melintasi seperti kilat yang memancar. Kumpulan kedua melintasi seperti angin yang kencang. Kumpulan ketiga melintasi seperti kuda yang baik. Kumpulan yang keempat seperti burung yang pantas. Kumpulan yang kelima berlari. Kumpulan keenam berjalan. Kumpulan ketujuh berdiri dan duduk kerana mereka dahaga dan penat. Dosa-dosa terpikul di atas belakang mereka.
Nabi Muhammad SAW berhenti di atas Sirat. Setiap kali, baginda SAW melihat seorang dari umatnya bergayut di atas Sirat, baginda SAW akan menarik tangannya dan membangunkan dia kembali. Kumpulan kelapan menarik muka-muka mereka dengan rantai kerana terlalu banyak kesalahan dan dosa mereka. Bagi yang buruk, mereka akan menyeru: “Wahai Muhammad SAW!”
Nabi Muhammad SAW berkata: “Tuhan! Selamatkan mereka! Tuhan! Selamatkan mereka!
Kumpulan ke sembilan dan ke sepuluh tertinggal di atas Sirat. Mereka tidak diizinkan untuk menyeberang. Dikatakan bahawa, di pintu syurga, ada pokok yang mempunyai banyak dahan. Bilangan dahannya tidak terkira melainkan Allah Taala sahaja yang mengetahui. Di atasnya ada kanak-kanak yang telah mati semasa di dunia ketika umur mereka dua bulan, kurang dan lebih sebelum mereka baligh. Apabila mereka melihat ibu dan bapa mereka, mereka menyambutnya dan mengiringi mereka memasuki syurga. Mereka memberikan gelas-gelas dan cerek serta tuala dari sutera. Mereka memberi ibu dan bapa mereka minum kerana kehausan kiamat. Mereka memasuki syurga bersama-sama.
Hanya tinggal, kanak-kanak yang belum melihat ibu dan bapa mereka. Suara tangisan mereka semakin nyaring.
Mereka berkata: “Aku mengharamkan syurga bagi diriku sehingga aku melihat bapa dan ibuku.”
Kanak-kanak yang belum melihat ibu dan bapa mereka telah berkumpul. Mereka berkata: “Kami masih di dalam keadaan yatim di sini dan di dunia.”
Malaikat berkata kepada mereka: “Bapa-bapa dan ibu-ibu kamu terlalu berat dosa mereka. Mereka tidak diterima oleh syurga akibat dosa mereka.”
Mereka terus menangis malah lebih kuat dari sebelumnya lalu berkata: “Kami akan duduk di pintu syurga moga-moga Allah Taala mengampuninya dan menyatukan kami dengan mereka.”
Demikianlah! Orang yang melakukan dosa besar akan dikurung di tempat pembalasan yang pertama oleh mereka iaitu Sirat. Ia dipanggil “Tempat Teropong.” Kaki-kaki mereka akan tergantung di Sirat.
Nabi Muhammad SAW melintasi Sirat bersama orang-orang yang soleh di kalangan yang terdahulu dan orang yang taat selepasnya. Di hadapannya, ada bendera-bendera yang berkibaran. Bendera Kepujian berada di atas kepalanya.
Apabila bendera baginda menghampiri pintu syurga, kanak-kanak akan meninggikan tangisan mereka. Rasulullah SAW bersabda:
“Apa yang berlaku pada kanak-kanak ini?” Malaikat menjawab: “Mereka menangis kerana berpisah dengan bapa dan ibu mereka. “Nabi SAW bersabda: “Aku akan menyelidiki khabar mereka dan aku akan memberi syafaat kepada mereka, Insya Allah.”
Nabi Muhammad SAW memasuki syurga bersama umatnya yang berada di belakang. Setiap kaum akan kekal didalam rumah-rumah mereka. Kita memohon kepada Allah Taala agar memasukkan kita di dalam keutamaan ini dan menjadikan kita sebahagian daripada mereka.
[ Arkib Sirah ]
SUMBER:
http://www.webnisa. net/
aku copy past dari web Raudhah.com,sedeyyy n gerunnn....
_________________
manusia itu akan terus mengkaji dan mengkaji,mencari dan mencari hakikat dirinya....namun manusia tetap tidak akan mengenal dirinya , selama manusia itu tidak mahu menerima hakikat kejadian dirinya seperti yg dikemukakan oleh Maha Penciptanya...
ISU WAHABI: TINGKAP YANG DISANGKA PINTU! 30.11.2005
Assalamualaikum WBT.
Saya minta maaf kerana tidak bersuara dan tidak memberikan apa-apa komen berkenaan dengan tajuk Wahabi. Tetapi setiap email yang dikirim, saya membacanya. Minggu lepas, cermin mata saya patah. Sedangkan sekarang ni saya berbelas jam sehari mengadap komputer untuk menyiapkan buku yang bakal dikeluarkan oleh syarikat tempat saya bekerja. Apabila sudah teruk sangat mengadap skrin, saya diserang migrane yang paling teruk saya pernah alami. Hingga nak buka mata pun susah. Dengar bunyi jarum jam tangan berdetik pun sakit kepala dibuatnya. Alhamdulillah, gaji sudah masuk dan sudah buat cermin mata baru. Lega rasanya… boleh meneruskan perjuangan di medan penulisan ini semula J
Saya rasa ulasan tentang Wahabi itu sudah banyak, dan boleh dikatakan keseluruhannya baik, Insya Allah. Saya sebenarnya sentiasa avoid untuk tersentuh semula bab ni sebab saya rasa, pengalaman lepas sudah cukup memeritkan, terutamanya semasa melihat adik-adik di Jordan berperang sesama sendiri, tidak bertegur sapa dan macam-macam lagi insiden yang memalukan, semata-mata atas isu ini. Malah, semasa di UK dan Ireland pun keadaannya sama. Pendek kata, apabila bincang bab Wahabi ni, banyak sungguh masa terbuang. Sebab tu kalau nak bincang pun, saya cuba mencari sudut yang belum pernah saya sentuh.
Anyway, saya terkenang semasa di Ireland, saya ada seorang housemate berbangsa Perancis yang pada masa itu baru 9 bulan masuk Islam. Dia masuk Islam selepas beberapa ketika terpikat dengan falsafah, dan keindahan syair-syair Jalaluddin ar-Rumi. Jadi, orangnya agak ‘sufi’ dan jiwanya halus. Malang sekali, dalam usia Islamnya yang begitu muda, dia telah menerima suntikan maklumat supaya berhati-hati mempelajari Islam sebab jika tersilap, akan terjebak ke belenggu Wahabi!
Suatu hari, dia bersembang dengan saya secara personal. “Hasrizal, I have a good news but it is not that good!”. Hairan saya mendengarnya lalu saya bertanya, “what sort of statement is this? I can’t see what you are trying to tell me”. Katanya, “my wife is pregnant and I’m gonna be a daddy!” Wow, ini sepatutnya menjadi berita gembira. Saya tanya dia, kenapa pulak awak tak begitu gembira dengan berita ni? Dan jawapannya amat mengejutkan saya.
Dia gembira apabila mendapat tahu isterinya mengandung. Tetapi dia dihantui rasa bimbang hingga paranoid. Katanya, dia orang sufi, suka kepada zikir-zikir dan meminati Jalaluddin ar-Rumi. Dia takut apabila anaknya dah dewasa, anaknya akan jadi Wahabi dan mengkafirkan dia kerana sufinya dia! Ya Allah, rasa nak putus jantung saya dibuatnya.
“What are you talking about, mate? All these are nonsense!”, rasa nak mengamuk saya dibuatnya. Itulah kali pertama dia sebut tentang Wahabi kepada saya dan apabila saya siasat, rupa-rupanya dia telah diberikan berbelas keping artikel tentang bahaya Wahabi sedangkan, dia baru sahaja belajar bertatih di dalam ilmu Fardhu Ainnya.
Ya, itu satu kenangan silam saya tentang Wahabi.
ERA PRA KEMBARA ILMU
Semasa di Malaysia kira-kira pada tahun 1992, saya pernah membaca sebuah buku kecil di dalam Perpustakaan Tun Datu Haji Mustafa, iaitu perpustakaan sekolah saya (SMA Izzuddin Shah, Ipoh). Buku tu telah menyenaraikan Wahabi sebagai salah satu ajaran yang bertentangan dengan Ahli Sunnah wal Jamaah. Emm, saya terima sahaja benda tu dan saya tidak nampak apa signifikasinya. Apabila saya berangkat ke Jordan dan memulakan pengajian, pada kepala saya mudah sahaja. Saya Syafie di dalam Fiqh, saya Asyairah di dalam Aqidah, Wahabi pula terkeluar dari Ahli Sunnah wal Jamaah. Itu semacam satu kepercayaan by default yang kita dapat dari Malaysia. Tetapi syukur, saya tak pernah kunci mana-mana pintu untuk menilai pandangan kedua.
Satu perkara yang saya sayang tentang Jordan (I can't believe that Im actually saying this J), ialah pengajian di Jordan bersifat comparative. Kita sentiasa digalakkan meluaskan kajian, pembacaan, membuat perbandingan pendapat, dan jika boleh, membuat Tarjih. Tetapi yang paling penting, Jordan mewajibkan pelajarnya hadir kelas. Kalau 6 kali tidak datang kelas, mahrum (diharamkan) masuk ke final exam. Jadi, apabila kita konsisten masuk kelas, pemikiran kita sentiasa dididik agar bermanhaj. Saya masih ingat, semasa di dalam subjek Hadith Ahkam, kami berbalah dengan pensyarah tentang sejauh mana argument para Fuqaha’ tentang masalah kewajipan suci daripada kedua-kedua hadath apabila hendak memegang mushaf al-Quran. Akhirnya kami sekelas diberi masa seminggu untuk pergi ke perpustakaan dan mengumpulkan semua dalil yang diguna pakai oleh ulama semua mazhab di dalam bab ini. Sama ada dalil al-Quran, Hadith, Usul Fiqh atau apa sahaja. Benda-benda seperti ini sangat baik. Ia mengajar kita untuk bersikap adil terhadap ilmu, Insya Allah. Syaratnya, anda ke kelas!
Sebahagian daripada tuntutan silibus pengajian di Jordan, saya dikehendaki membaca buku daripada pelbagai aliran. Saya baca kulit ke kulit buku Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah oleh Dr. Al-Buthi, saya baca Maqalaat al-Islamiyeen oleh Imam Abu al-Hasan Ashaari, dan dalam masa yang sama, saya juga dikehendaki membaca, memahami dan boleh membahaskan buku-buku karangan ulama yang dilabelkan Wahabi (walaupun mereka lahir, hidup dan mati beratus tahun sebelum kemunculan Muhammad bin Abdul Wahab) seperti Ibn Taimiyyah dengan bukunya Al-Ubudiyyah, Al-Fatwa Al-Humawiyah Al-Kubra dll, Ibn Qayyim, malah tulisan-tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri. Hmm, dengan fikiran saya yang saya yakin ia waras, sedar, ada manhaj sedikit sebanyak, dan adil dalam menilai sesuatu, demi Allah, saya tidak nampak dari sudut manakah, kesemua buku yang saya sebutkan tadi (sama ada aliran Salaf mahu pun Khalaf), yang membolehkan saya menghukum Wahabi atau Ashaari atau Maturidi terkeluar daripada Ahli Sunnah Wal Jamaah.
KESIMPULAN YANG SIHAT
Saya amat selesa dengan nasihat Dr Abdullah Fawwaz semasa di Jordan. Katanya, “sama ada kamu memilih aliran Salaf, mahu pun Khalaf, mana-mana yang membawa kamu kepada beriman dengan Yakin kepada Allah, maka teruskan sahaja dengan manhaj itu!”. Saranan yang sama saya dapat daripada Hasan al-Banna dan ramai lagi tokoh yang berjiwa Da’ie.
Semasa di UK juga, jika saya diminta membentangkan kertas kerja berkaitan isu pertembungan Salaf dan Khalaf, saya suka mengambil pendekatan Hasan al-Banna yang sentiasa mengenengahkan titik-titik persamaan dan bukannya berkasar dengan perbezaan. Mudah-mudahan cara ini adalah cara paling baik, khususnya di dalam usaha pembaikan umat.
CINTA OTHMANIYYAH BENCI WAHABI?
Saya juga seorang pengkaji Sejarah Khilafah Othmaniyyah. Bukan kaji main-main, tapi sampai belajar Bahasa Turki, belajar Bahasa Othmaniyyah, belajar cara baca manuskrip Othmaniyyah, berpuluh kali berulang ke Turki, berkeluarga angkat bangsa Turki, tinggal serumah dengan kawan-kawan Turki, memasak masakan Turki, mengigau di dalam Bahasa Turki... cuma kahwin dengan orang Turki sahaja yang saya tidak buat! (isteri saya mesti berbangga dengan sambal belacannya). Saya cintakan Sejarah Othmaniyyah, saya serahkan diri kepada bidang ini secara bersungguh-sungguh terutamanya selepas melihat gambar Sultan Abdul Hamid II dibaling dengan batu oleh puak sekular di Istanbul. Terutamanya selepas saya bertemu dengan catatan Sultan Abdul Hamid II “I am sure that the historians will vindicate me, and even if the Turkish historians do not do so, I am certain that some foreign historians will do me justice”. Apabila saya banyak menghabiskan masa membaca karangan-karangan ulama di zaman mutakhir kerajaan Othmaniyyah, saya dibebankan dengan timbunan penulisan mereka yang mencela dan mencaci Muhammad bin Abdul Wahhab, khususnya melalui buku-buku yang diedarkan secara percuma oleh Ihlas Vakfi di Fatih, Istanbul.
Ya lazimnya, kalau mahu cinta kepada Othmaniyyah, perlulah bermusuh dengan Wahabi.
Tetapi saya bukan jenis begitu... dan saya puji Allah yang telah memimpin saya di dalam pencarian ilmu. Saya boleh cinta kepada Othmaniyyah tetapi cinta saya bukan buta. Saya bersedia untuk mengiktiraf sudut-sudut hitam Sejarah Othmaniyyah, termasuklah kelakuan-kelakuan buruk Gabenor Othmaniyyah yang bertugas di tanah Hijaz. Saya bersedia untuk menahan pedih hati dan jiwa menganalisa penyebaran fahaman Turanisma (nasionalis Turki) yang menular di seratus dua ratus tahun terakhir umur kerajaan Othmaniyyah.
Di dalam masa yang sama, saya terus membaca tulisan-tulisan Muhammad bin Abdul Wahab, dan akhirnya saya rasa adil untuk saya sebut “untuk sekumpulan manusia yang Aqidah dan Fikahnya sejahtera, membuat pembacaan politik yang salah, ia adalah sesuatu yang boleh diterima akal”. Pada saya, Muhammad bin Abdul Wahab serta pengikutnya, sama ada mahu dipanggil Wahabi atau Muwahhidin atau apa sahaja, mempunyai pegangan Aqidah dan Fiqh yang sejahtera. Tetapi ia bukan jaminan untuk mereka membuat bacaan politik dan pendekatan siasah yang betul. Maka permusuhan Muhammad bin Abdul Wahab dengan Khilafah Othmaniyyah, pada kiraan saya adalah soal ijtihad yang betul dari sudut menentang kemungkaran, tetapi salah dari segi tidak membezakan kelakuan gabenor Turki yang goblok dengan polisi sebenar Khilafah Othmaniyyah yang Islam. Saya tidak bersetuju dengan bentuk penentangan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap kerajaan Othmaniyyah, tetapi atas dasar hujah. Tidak sekali-kali bantahan saya di dalam persoalan pendekatan siasah Muhammad bin Abdul Wahhab, mengheret saya untuk menolak beliau dan gerakannya secara menyeluruh. Soal Aqidah dan Fiqh adalah satu isu, soal pendekatan siasah pula adalah isu yang lain. Jika approach Muhammad bin Abdul Wahhab dianggap keterlaluan oleh masyarakat Melayu yang 'kurang keras', maka approach tersebut boleh ditolak. Namun jangan sampai disesatkan Aqidah dan Fiqh mereka tanpa justifikasi yang adil.
SULTAN ABDUL HAMID II DAN GERAKAN WAHABI
Malah saya sendiri gembira apabila Dr Muhammad Abdul Hamid Harb telah menterjemahkan sekeping manuskrip Othmaniyyah yang tersimpan di Perpustakaan Sultan Abdul Hamid (Yildiz Sarayi) tentang rekod kerajaan Othmaniyyah terhadap kemunculan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab. Manuskrip itu ditulis oleh Muhammad Kamil bin Nukman atau lebih dikenali sebagai Ibn Daraami al-Homsi. Manuskrip itu bertarikh 27 Ramadhan tahun 1312H, setebal 82 keping iaitu 164 muka surat. Ia ditulis atas permintaan Sultan Abdul Hamid II yang mahu mengetahui secara terpeinci tentang hal ehwal Semenanjung Tanah Arab dari segi geografinya, sosio budayanya, dan termasuklah kesan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab.
Antara isi kandungan manuskrip tersebut ialah kisah bagaimana seorang Badwi telah kehilangan untanya. Lalu dia pergi ke kubur seorang alim bernama Saad dan meratap, “Wahai Saad, wahai Saad, pulangkanlah untaku!” Hal ini berlarutan selama beberapa hari dan akhirnya, perihal Badwi yang meratap di kubur syeikhnya itu sampai ke pengetahuan Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau telah datang pada hari ketiga kepada Badwi tersebut lalu berkata:
“Apa masalah kamu?”
“Aku kehilangan untaku. Sebab itu aku datang ke kubur syeikh aku. Sesungguhnya Syeikh Saad pasti boleh memulangkan kepadaku untaku yang hilang itu!”, jawab orang Badwi itu tadi.
Muhammad bin Abdul Wahhab bertanya, “siapakah syeikh kamu yang kamu maksudkan itu?”
Si Badwi menjawab, “inilah dia syeikh aku, yang duduk dalam kubur ni!”
Lalu Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Ya Sheikh! Kamu adalah kamu dan kamu hidup serta kamu yang hidup tak mampu mendapatkan untamu. Apa hal pula kamu minta dari syeikh kamu sedangkan dia adalah mayat yang sudah mati. Bagaimana mungkin untuk dia keluar dari kubur untuk mencarikan kamu apa yang kamu sendiri tidak mampu lakukan? Sudahlah, tinggalkanlah si mati itu, mintalah pertolongan daripada Allah dan bukannya dari si dia yang dah tertanam di bawah batu ini. Dia sudah menjadi tulang temulang. Janganlah kamu minta dari Saad, sebaliknya mintalah daripada Tuhan Saad. Jangan sebut: wahai Saad! Sebaliknya sebutlah: wahai Tuhan Saad! Sesungguhnya Dia berkuasa untuk memulangkan untamu. Ingat, bukan Saad, tapi Tuhan Saad. Dan ketahuilah bahawa Allah itu Maha Berkuasa atas segala sesuatu!” (muka surat 31)
Ibn Daraami al-Homsi yang menulis manuskrip itu, membuat komentar untuk Sultan Abdul Hamid II dengan berkata, “sesungguhnya nasihat-nasihat Muhammad bin Abdul Wahab telah pun disebarkan kepada kabilah-kabilah Arab dan mereka menerimanya dengan baik, malah kesannya juga amat teguh. Pandangannya tersebar ke seluruh pelusuk Semenanjung Tanah Arab dari hujung ke hujung, meliputi Haramain serta Iraq, Hijaz dan bandar-bandar yang lain.” (muka surat 32) [rujuk Al-Othmaniyyun fee at-Taareekh wa al-Hadharah oleh Dr. Muhammad Abdul Hamid Harb, terbitan Darul Qalam, Dimasyq, cetakan kedua 1419 / 1999)
Ini adalah sebahagian daripada cacatan tentang Muhammad bin Abdul Wahhab yang saya baca dari sumber sejarah Othmaniyyah. Banyak lagi yang boleh dikaji, termasuklah di dalam koleksi nasihat Snouck Hurgronje kepada Pegawai-pegawai Belanda yang berpuluh jilid di Perpustakaan Yildiz Sarayi.
DAKWAAN DI AKHBAR UTUSAN
Akan tetapi, saya terkasima membaca tuduhan Dr Uthman Muhammadi bahawa gerakan Wahabi telah menjatuhkan Khilafah Othmaniyyah. Saya tidak tahu apa motifnya. Apakah kenyataan ini mahu ‘memancing’ pihak kerajaan supaya menggunakan pendekatan penguatkuasaan undang-undang ke atas Wahabi di atas dasar Wahabi boleh menjatuhkan kerajaan BN sebagaimana Wahabi pernah menjatuhkan kerajaan Islam Khilafah Othmaniyyah? Pada saya, ini bukan suatu kenyataan yang ada asas. Asas sejarah tiada, asas politik pun tidak ada. Apa yang saya tahu ialah, antara gerakan yang benar-benar memainkan peranan menjatuhkan Khilafah Othmaniyyah adalah gerakan Ataturk. Dan ironinya, menurut Milner, gerakan inilah yang dikaji oleh Dato Onn Jaafar sehingga membawa kepada tercetusnya idea menubuhkan UMNO yang sekular lagi progresif. (Milner, A.C (1986), ‘ The Impact of the Turkish Revolution on Malaya, Archipel 31, Paris). Jadi, untuk mengaitkan Wahabi dengan ancaman anti establishment, saya sukar melihat sifirnya.
GOLONGAN YANG MEMUSUHI WAHABI
Namun yang saya pasti, golongan yang memusuhi Wahabi ini ada ramai. Pertamanya adalah Syiah. Mereka amat benci kepada Wahabi, mungkin bermula dengan kebencian mereka terhadap Ibn Taimiyah yang telah menulis kitab Minhaaj as-Sunnah yang telah meruntuhkan berhala kepercayaan mereka.
Keduanya, Ulama-ulama di Mekah yang juga merupakan tuan-tuan guru kepada pelajar Nusantara yang menyambung pengajian di Mekah. Pelajar ini pula pulang ke Kepulauan Melayu dan menjadi tok-tok guru di pusat-pusat pengajian pondok dan pesantren. Saya masih mengkaji apakah sebenarnya isu yang timbul di antara Mufti Mekah Sheikh Zaini Dahlan dengan Muhammad bin Abdul Wahab. Permusuhan antara mereka menyumbang kepada berpindahnya kecaman ke atas Wahabi ke Nusantara, generasi demi generasi.
Golongan ketiga yang memusuhi Wahabi adalah golongan Islam Liberal. Mungkin pendekatan Wahabi yang mengetatkan pemahaman teks al-Quran dan al-Hadith telah menyesakkan dada golongan Islam Liberal yang mahu melepaskan diri daripada cengkaman tradisi Islam yang mereka anggap sebagai 'penghalang kemajuan dan kebebasan beragama'.
Dan terkini, yang memusuhi Wahabi adalah Amerika dan kuncu-kuncunya apabila Wahabi dikaitkan sebagai fahaman anutan Osama bin Laden serta Abu Bakar Al-Bashir. Maka sifir mereka ialah:
Wahabi = Osama bin Laden = Abu Bakar al-Bashir = Nordin Mat Top = Dr Azahari = Terrorist!
Sifir ini memang luar biasa, namun hanya sehari selepas Dr Uthman Muhammadi mengungkapkan kebimbangannya terhadap Wahabi di Utusan, sifir ini muncul dengan panas lantas pelbagai spekulasi luar biasa timbul.
Entahlah, saya tidak suka untuk terjebak di dalam isu ini. Pada saya, jika anda adil terhadap ilmu, jika anda berfikiran terbuka, jika anda sudi belajar ilmu perbandingan mazhab dan aliran yang pelbagai, dan yang paling penting, jika anda rajin ke kelas sepanjang pengajian di universiti, Insya Allah anda boleh berlapang dada menerima Imam Syafie, Imam Abu al-Hasan Ashaari, Imam Maturidi, Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim, Al-Ghazali, Muhammad bin Abdul Wahhab, Rashid Ridha dan sesiapa sahaja yang pandangannya baik. Dan anda juga boleh berlapang dada memaafkan kelemahan-kelemahan mereka kerana yang Maksum hanyalah seorang ialah tuan punya makam ini, bak kata Imam Malik, sambil menunjukkan tangannya ke arah makam Rasulullah S.A.W.
PERLU DIPERJELASKAN
Adalah amat penting untuk saya jelaskan di sini, saya bukan berusaha mempertahankan Wahabi. Jika Wahabi itu dirujuk kepada aliran Saudi oriented, atau yang asyik membid'ahkan masyarakat, atau yang menuduh liar setiap pembangkang itu adalah neo-Khawarij, apatah lagi yang mencarik-carik daging dan kulit pejuang seperti Asy-Syahid Sayyid Qutb, maka saya bukan sebahagian mereka. Apa yang saya cuba pertahankan di sini adalah soal hak kebenaran yang mesti ditunaikan. Sama ada kritikan itu ditujukan kepada Wahabi, Khalaf, Salaf atau sesiapa sahaja, ia mestilah dibuat berasaskan bukti yang sahih lagi teruji. Andaikata anda suka menjadi pendekar peluru tabur, maka saya tidak di medan anda!
Firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang fasiq kepada kamu membawa berita, periksalah ia terlebih dahulu. Agar nanti jangan kamu menghukum sesuatu kaum dalam keadaan jahil (terhadap apa yang benar), lantas kamu kemudiannya menyesal atas apa yang telah kamu lakukan” (Surah Al-Hujurat 49 : 6)
Firman-Nya lagi: “Dan janganlah kamu berpendirian di dalam sesuatu perkara yang kamu tidak ada pengetahuan mengenainya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu akan dipersoalkan (di akhirat).” (Surah Al-Isra' 18 : 36)
Ya Allah, celikkan mata hatiku untuk melihat kebenaran di akhir zaman. Wassalamualaikum WBT.
ABU SAIF @ www.saifulislam.com
Cheras 56000, 30 November 2005
TINGKAP YANG DISANGKA PINTU: APA MAKNANYA? 09.12.2005
Assalamualaikum WBT
Akhirnya ada juga yang bertanya kepada saya, apa sebenarnya yang saya maksudkan dengan TINGKAP YANG DISANGKA PINTU pada artikel Isu Wahabi yang lepas. Sebenarnya, saya memang menanti soalan tersebut kerana saya ingin tahu sejauh mana patah-patah perkataan yang saya coretkan di dalam artikel Saifulislam Online diberi nilai dan perhatian. Selalunya saya selalu termenung selepas menulis bait-bait perkataan, dan saya akan cuba fikirkan, apakah tulisan saya boleh menimbulkan salah faham pembaca. Proses ini penting, supaya penulis tidak 'syok sendiri', menulis untuk dirinya sendiri tanpa pernah 'mencuba kasut pembaca'. Maka saya cuba sedaya upaya untuk berhati-hati di dalam memilih perkataan
Sebenarnya tidaklah ada apa-apa yang istimewa. Cuma, saya sebenarnya membuat suatu analogi tentang isu Wahabi, di manakah sebenarnya kedudukan isu ini di dalam Islam. Pada saya, seandainya kita menerima justifikasi terhadap istilah dan pengertian 'Fahaman Wahabi', maka saya masih melihatnya sebagai persoalan pendekatan dan bukannya usul agama. Mungkin kenyataan saya ini disanggah ramai pihak, namun saya ada alasan saya yang tersendiri.
Saya tidak membaca fatwa-fatwa dan tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan 'bias'. Saya tahu, jika amanah ilmu dibiarkan terganggu oleh 'bias' itu tadi, maka persepsi, logik dan lain-lain tapisan minda akan rosak lantas kita akan membaca secara khianat terhadap apa yang cuba disampaikan oleh seseorang. Misalnya, Muhammad bin Abdul Wahhab pernah menegah orang yang datang ziarah ke maqam Rasulullah SAW membuat 'tawaf' di keliling Maqam Rasulullah SAW. Alasannya, perbuatan itu adalah ibadah, maka ia bersifat tauqifiyyah, iaitu hanya boleh diwartakan di bawah ketetapan Allah dan Rasulullah SAW, tidak boleh direka-reka sendiri. Oleh itu perbuatan tawaf hanya terkhusus kepada mengelilingi Kaabah semata-mata.
Lantas, Muhammad bin Abdul Wahhab dituduh lebih memuliakan Kaabah daripada Rasulullah SAW sebab tawaf keliling Kaabah boleh, sedangkan tawaf di sekeliling Maqam Rasulullah SAW ditegah! Khianat sungguh kesimpulan sebegitu.
Berbalik kepada persoalan TINGKAP YANG DISANGKA PINTU itu tadi, saya melihat isu Wahabi ini banyak dipengaruhi oleh approach Muhammad bin Abdul Wahhab yang terlalu keras jika diukur dengan pembaris Melayu. Malah, ramai pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab ini terdiri daripada orang Badwi, lantas kuranglah budi bahasa dan berlembut budaya mereka dalam dakwah. Namun, ia tetap soal approach, soal pendekatan. Dalam erti kata yang lain, ia adalah soal yang boleh diterima dan ditolak. Jika orang Melayu terlalu lembut untuk dicanai dengan pendekatan Arab, maka tinggalkanlah cara kasar itu. Oleh itu, soal Wahabi bukan pintu. Ia bukan pintu masuk atau pintu keluar Islam. Tahap keIslaman seseorang tidak boleh diukur dengan sejauh mana dia menerima dan menolak Wahabi. Isu Wahabi hanyalah jendela untuk merenung beberapa dimensi Islam, khususnya di dalam kajian terhadap pendekatan mana yang lebih baik untuk mengatasi kekerasan hati dan kepala bangsa Arab di zaman itu mempertahankan amalan-amalan khurafat mereka.
Maka soal Wahabi hanya tingkap. Ia bukan pintu. Pintu Islam itu jauh lebih besar, tinggi dan utama daripada 'isu Wahabi'. Namun yang menjadikan isu Wahabi sebagai pintu, dia sudah salah pilih. Padanya, keIslaman seseorang berada di bawah pertikaian jika dia masuk ke 'rumah Islam' melalui pintu Wahabi.
Pada saya, orang yang menjadikan tingkap sebagai pintu, adalah penjenayah. Hanya penjenayah sahaja yang menceroboh masuk melalui tingkap. Dan mereka yang membesarkan isu Wahabi hingga kita berlarutan membuang umur, adalah penjenayah kepada amanah ilmu, penjenayah kepada Ummah yang terheret umur dan masanya sebagai mangsa.
Saya masuk ke rumah ikut pintu...
Wassalamualaikum WBT.
ABU SAIF @ www.saifulislam.com
CHERAS 56000
10 Disember 2005
|Muka Depan| |hasrizal.com| |Artikel| |Tetamu| |Bookmark| |Nasyid| |Guestbook| |Yahoo! Group| |Berita Terkini| |Webmail|
PENAFIAN: Saya, selaku pemilik Saifulislam Online sentiasa berusaha untuk memberikan penyelenggaraan yang terbaik bagi laman web ini, tetapi adalah tidak bertanggungan bagi apa-apa kehilangan atau kerugian yang disebabkan oleh penggunaan mana-mana maklumat, atau daripada kecacatan atau kesilapan kandungan yang terdapat di dalam laman web ini.
No comments:
Post a Comment